Blogger Tricks
Saturday, 21 February 2015

"Jadi, seorang anak kecil bermain dengan boneka kesayangannya. Setiap hari pasti dibawanya ke mana-mana, dari kamar ke kamar, sampai juga ke sekolah.

Namun seiring waktu dimakan oleh dunia, anak itu lama kelamaan bosan dan mulai meninggalkan boneka itu. Ia sudah menjadi pribadi yang hanya memikirkan tugas, tugas dan tugas.

Boneka itu hanya pasrah saja, ketika debu mulai menyelimutinya. Tanpa ada yang peduli lagi. Seakan waktu memakan dirinya, terlantar di dalam sebuah kardus besar berisi barang bekas".

Nah, sifat dasar manusia mah sebenarnya simple saja:
Dapat -> antusias -> terus berjalan waktu -> bosan -> lupakan.

Dan gitu terus sampai dunia habis masa berlakunya.

Lupa akan sesuatu itu terkadang merubah hidup seseorang juga, termasuk hidup orang lain juga loh. Jadi jangan salah. Dan jangan heran, mengapa seseorang bisa berubah pandangan terhadap lo karena melupakan aja suatu hal.

Contohnya, melupakan tanggal penting saat pacaran. Yang cowok.. Ah, pasti taulah bagaimana rasanya diamukin gara-gara itu.  #ngehesekali.

Namun, yang membuat sedih itu ketika kenangan yang 'membunuh pikiran perlahan-lahan' enggak bisa dihindarkan untuk dipikirkan kembali. Semua orang pasti punya dong kenangan seperti itu. Berujung trauma malahan bagi beberapa orang. Tapi, jangan salah. Justru kenangan seperti itu yang membuat kita sadar di saat waktunya ada masalah yang berkaitan, bahwa yang terjadi saat kenangan itu, harus terjadi lagi, atau hindari sebisa mungkin.

Menganggu memang kenangan seperti itu. Yang nulis ini aja punya banyak kok.

Jika ada sebuah kenangan yang sebenarnya menganggu, namun ingin, bahkan harus terjadi lagi, usahakan untuk membuat kenangan itu terwujud untuk kesekian kalinya. Cara inilah, yang sebenarnya membuat kenangan itu memudar, seperti tugas guru killer saat sekolah. Kalau dikerjakan capek memang, namun tidak dikerjakan malah membuat pikiran kacau balau.

Mending mana hayo?

Dan, jika ada sebuah kenangan yang mengganggu, dan sampai kapanpun enggak mau terjadi lagi, usahakan jangan lupakan kenangan itu. Menganggu memang, namun justru gangguan inilah yang membuat kenangan itu tak terulang lagi.

Contoh sederhana. UN lo misalnya nilai bahasa Indonesia hancur. Usahakan untuk tetap ingat pastinya kenangan itu. Sometimes, it works. As it make the things gone better.

Dan, yang paling gue enggak suka selama ini adalah seorang teman yang melupakan begitu saja apa yang diperbuat demi orang itu.

Dan iya, gue juga pernah kayak gitu kok. Yang baca ini aja pasti iya, kan? Introspeksi diri aja, deh. Jangan salah menyalahkan.

Baik disengaja maupun tidak, yang sakit itu hati kecil dan pikiran juga loh terkadang. Bukan yang melupakan, yang dilupakan.

Apalagi yang udah tulus menghilangkan waktunya demi membantu temannya itu. Bantuannya ngebuat dirinya kesusahan sendiri lagi.

Setulus-tulusnya orang, pasti butuh balasan juga, sekecil apapun itu.

Contoh, seorang cowok, meskipun adalah mantan dari seorang cewek, dia masih mau membantu dengan tulusnya si cewek itu. Yang tanpa disadarkan sama sekali, cowok itu membantu setulus dia yang masih sayang dengan ceweknya itu dulu. Menghabiskan waktunya yang seharusnya digunakan untuk pekerjaan pribadinya. Meskipun juga sedang letih dan kesal karena pekerjaan pribadinya juga, masih saja ia membantu.

Beberapa hari kemudian, si cowok kesepian. Ia hanya membutuhkan beberapa tulisan berisi balasan. Diajaklah si cewek untuk chat.

Hanya saja, balasannya singkat, lama pula. Tidak menyakiti hatinya sih, sampai ia melihat "Safitri retweeted... Blablablabla" berentetan di timeline Twitternya, diwaktu ia membutuhkan percakapan meskipun hanya berbentuk tulisan.

Dan itu berlanjut sampai hari di mana tulisan ini dibuat.

"Hingga waktu yang lama selesai memakan jalannya dunia, kardus itu dibuka kembali. Terlihatlah boneka yang sudah usang itu memasang raut muka sedih. Diambilnya lagi boneka itu, dicuci lagi, dan disayang lagi seperti dahulu. Dibukalah mata boneka itu, pemiliknya berganti lagi, namun dengan raut muka ceria yang selalu sama.

Dan lagi, waktu memakan jalannya dunia, pemilik boneka itu hanya memikirkan tugas, tugas, dan tugas.  Berbeda dengan dulu, sekarang, sang pemilik dan boneka itu, masih memiliki raut muka yang sama, meskipun sang pemilik hanya memainkannya saat waktu senggang yang sempit".

End of the post.

Leave a Reply

Time of the World

Blogger TemplatesMy Blogger TricksAll Blogger Tricks

Pageviews

Video Bar

Loading...
Powered by Blogger.

- Copyright © Life of a Teenager -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -