Blogger Tricks

Archive for March 2014

Makin Tua, Makin Sulit.


Kenapa kalau kita semakin tua umurnya, maka semakin “sulit” kehidupan kita? Apalagi, ketika lo di sebuah keluarga, lo anak yang paling tua. Atau bisa dibilang: anak sulung. Apalagi juga, kalau lo punya adek banyak. Krik-_-

Dan biasanya, anak sulung juga kebanyakan yang diminta tolong, kebanyakan disuruh, dan kebanyakan kena marah. Sementara adek-adek hanya diam menonton TV atau asik dengan komputer. Atau, ketika adek ingin meminjam HP lo, saat lo sedang asiknya chat sama gebetan, dan lo gak ngasi, adek lo lapor orang tua, orang tua marah, katanya harus dikasi HPnya, dan dikembaliinnya ketika gebetan sudah sulit untuk dikontak ( kaya ketika ia waktu belajar, misalkan ). Ini…. *dafuq facepalm.

Dan karena adek sering digituinlah, jadi setiap hari ia minjem harus dikasi. Alhasil, kadang resikonya bisa jadi PDKT gagal karena tiap hari beberapa jam berlalu yang seharusnya digunakan untuk menanyakan kabar atau sekedar chat, karena HP dipake main adek buat main Pou.

Atau kasusnya kaya ada teman gue. Adeknya yang berbeda umurnya dua tahun dengannya, malah adeknya kaya sebagai “yang lebih tua” daripada kakaknya. Setiap hari, HPnya dipinjam. Katanya sih, buat chat sama temannya di BBM juga dari HP dia. Cuma aja, dipinjamnya gak nahan, sekali make bisa kurang-lebih setengah jam, bahkan kalau ada notifikasi BBM untuk kakaknya pun enggak dihiraukan. Terkadang inilah yang merugikan juga, karena.. Siapatau aja BBM yang masuk itu penting bagi kakaknya, seperti info untuk ulangan, atau kisi-kisi untuk ulangan, atau juga, dari gebetannya. Mending kalau cuma sekali. Kalau berkali-kali? Bisa berapa jam itu. Mending juga kalau dipinjamnya baik-baik, ini kalau diminta balik aja, ujung-ujungnya main tabok-tabokan atau cakar-cakaran. Krik.
*permanent dafuq facepalm.

Dan anak yang paling tua adalah anak yang harus selalu mengalah kepada adiknya. Baik adiknya salah juga, pasti bilangnya, “Mamaaa, kakaknya nakaaal!”. Emangsih, kebanyakan orang tua sebenarnya cuek karena itu. Tapi kesal juga kalau setiap apa-apa dengar kata-kata itu melulu. Bosen. Dan mengalah juga, karena biasanya, adik-adik yang saling sebaya akan lebih membela temannya yang sebaya daripada kakaknya. Misalkan, kaya gue baru main PS2 setengah jam. Dibilangnya….. Satu jam.
Dalam hati, gue bilang “Ndasmu satu jam!”.
Namun sialnya, karena dibandingkan gue yang paling tua SMP sendiri di situ, dengan adek-adek gue beserta sepupu gue yang berjumlah 5 orang, pada ribut semua, “Udah satu jam itu daritadii!”, gue langsung lawan aja, “Aih, orang baru setengah jam segini geeeh. Kok semau coba..”, dan itu berlanjut sampai lima menit kemudian yang dimenangkan oleh 5 adik gue. Mereka main sampai malam. Krik.
*double permanent-statue dafuq facepalm.

Dan, untuk urusan makanan juga. Berhati-hatilah kalian kalau membawa sebungkus makanan untuk cemilan pribadi. Karena terkadang, cemilan itu, kalau diliat adek lo, bisa habis dalam sekejap. Mending kalo habis sama balita yang emang unyu, lo mungkin bisa maklum. Tapi kalo sama adek-adek yang rakus yang kerjaannya juga jajan tiap hari, sudahlah. Kabur.

Dan terakhir yang gue tau, dan yang paling ngeselin: adek kepo soal privasi.
Setiap gue kadang chat sama teman gue, yang cewek, terkadang kalo adek gue liat nama chatnya, pasti bakal di cie-ciein. Dan juga bakal jadi gosip tersendiri di kalangan anak kecil.
Percayalah, anak kecil itu gossipnya aneh-aneh, tapi bisa parah dan frontal.
Seperti gue dulu, adek-adek gue pada ngumpul, sambil nonton TV dan.. Ngegosip tentang teman-teman sekolahnya. Gue cuma nonton dan mendengarkan aja. Dan tau-tau, ada seorang adik gue bilang, "Eh, tau enggak, si itu katanya pernah ciuman coba masa si itu". Adek-adek gue semua langsung respon "hiiii" dan ketawa. Gue cuma bisa... Diem dan, "Kayaknya dunia ini makin aneh deh. Anak kecil aja udah tau kayak gituan. Krik."

Balik ke masalah privasi. Adek itu suka yang namanya bongkar bangkir privasi. Dan kebanyakan bakal dijadiin kongkean. Dan ujung-ujungnya sampai ke orang tua. Yang sial itu kalau ada orang lagi pacaran, tapi orang tuanya enggak bolehin. Ada adeknya yang iseng buka HP, lalu nemu chat kakaknya dengan pacarnya. Ketika HP mau diambil si kakak, tau-tau adek ngongek, "cieee kakaaak pacaran yaaah?", tentu aja si kakak cuma bisa.. Gondok dan diem.

Mending kalo adiknya udah enak diajak kompromi dan bisa diam. Kalo ia frontal? Tamat sudah. Gak lucu ajasih, alasan putusnya..

"Maaf yah sayang, aku mau putus aja.."
"Kenapa memangnyaaa? Apa aku ada salah? Atau ada apa gitu? Bilang sama aku dooong. Jalannya kan enggak harus putus kan..."
"Karena... Adek aku yang frontalin ke orang tua aku kalo aku pacaran sama kamu"
*di chat hening sementara...

Mungkin itu saja dulu yang gue tulis untuk kali ini. Cyao all!

Friday, 28 March 2014

Cats Mirroring Our Life?


Oke. Kucing.
Kucing adalah hewan yang bisa dibilang.. Unyu. Dibandingkan dengan anjing yang kalo gue mau sejinak apapun, kalau dia mendekat, gue akan kabur. -_-

Kenapa gue sekarang ini ngebahas tentang hewan mamalia darat yang bernama "cat" ini? Karena...

Sebenarnya, menurut gue aja, kucing itu kehidupannya... Mirip manusia. Cuma aja, lebih kebanyakan "sakit"nya daripada enaknya.

Kucing, ketika mereka sedang "meong-meong", dan nada suaranya sedih, seperti nangis. Atau, ketika lo sedang bermain-main dengan anak kucing, dan ujung-ujungnya anak kucing itu ngikutin lo sampai masuk rumah. Lo malah ngunci anak kucing itu dari luar, dan.. Anak kucing itu dengan setianya nunggu di depan pintu sampai pintu itu dibuka, atau kebanyakan kucing itu akan pergi buat melakukan sesuatu yang lain.

Namun yang perlu dikasihani ketika kucing itu dengan setianya nunggu di depan pintu. Memang, kucing tidak memiliki perasaan, namun mereka punya rasa. Rasa untuk ingin disayangi, rasa untuk ingin dilindungi, dan rasa untuk diperhatikan. Itu kenapa, ketika lo sedang bermain-main dengan kucing, dan kucing itu keliatannya excited banget dengan lo, itu tandanya, mereka merasa disayangi dan diperhatikan, biar berbeda spesiesnya.

Itu kenapa, banyak kucing kampung juga sering datang ke rumah, bahkan sampe masuk rumah lo tiap hari, kalau lo suka main dengan kucing yang sama tiap hari. Terkadang malah kucing itu berguna: jadi pemburu tikus. Cuma aja kadang: hati-hati lauk buat makan lo abis dimakan kucing. -_-

Banyak kucing yang biasanya setia, bahkan kucing kampung pun bisa. Ambil contoh aja, kucing di rumah gue. Karena adek gue setiap hari mainan dan ngasi makanan ( yang dikasi potongan sosis yang masih beku, belum digoreng-_- ) ke kucing itu. Lama-lama, itu kucing jadi tiap hari mainan di rumah gue, bahkan aja, dia suka dengan setianya nunggu dielus di karpet ruang keluarga. Malah aja, dia sering ( dan sekarang, tiap hari ) tidur di belakang rumah gue. Adek gue ngasi nama kucing itu terlalu simple, hanya mengganti satu huruf saja: Pucing. Beruntung aja, dia gak pernah boker sembarangan. Paling banter aja dia ngotorin rumah, sekali muntah di lantai dalam rumah. -_-

Tiap malam, ia pasti duduk di pintu, di dekat gudang di dapur. Untuk menunggu "target" berupa hewan kecil yang bisa menggigit dan menghancurkan apa saja yang ingin ia makan ( tikus, maksudnya ). Beruntung karena kucing itu, gak ada tikus yang berkeliaran di dalam rumah gue. Cuma aja, pernah ayam teriyaki gue dimakan abis sama dia diam-diam -____-

Sekarang, kenapa kucing bisa setia banget?
Karena kucing enggak punya pikiran, kan? Kucing hanya bisa merasakan. Jadi, kalau udah sekalinya dia "sayang" sama seseorang, dia akan setia asli.

Beda dengan manusia, rasa "sayang"nya dapat berubah-berubah. Karena adanya "hati yang dapat semau hidup mengganti nama yang tergantung kuat di dirinya".

Kucing juga ada yang hidup enak. Kalian taulah, kucing peliharaan yang harganya bisa jutaan rupiah per ekor. Makanannya Pedigree, atau Whiskas, bukan somai bekas gigitan karena enggak habis dimakan. Kucing kaya gini itu enak, tiap bulan dirawat di salon, gak bisa dicuekin, dan kadang juga, dia bisa melakukan sesuatu semau hidupnya. Kaya tiduran di kasur majikannya, atau boker sembarangan di karpet kamar mandi, misalkan.

Kalau kucing kampung yang jadi peliharaan? Bisa-bisa aja. Lah, tadi, contohnya si Pucing. Udah kaya hewan peliharaan di rumah gue dia. Dikasi makan ( biarpun hanya nasi dicampur lauk sedikit sih ), suka dielus, dan kadang juga dimainin-mainin.

Jujur gue selalu kasian sendiri kalo liat kucing lagi "sedih". Seperti yang gue bilang sebelumnya, ketika mereka "berisik", meong-meong ke sana kemari. Biasanya, kucing yang kaya gini lagi nyariin anaknya, atau emang karena laper belum makan. Kalo udah gitu, biasanya gue elus aja. Tapi awas, jangan sampai dicakar. Kucing juga bisa kaya manusia, ketika lagi emosi, mereka enggak mau diganggu. Ketika diganggu, emosinya meledak, dan ujung-ujungnya nyerang.

Jadi, kalau kucing aja bisa setia banget sama tuannya biar ia kadang "kesiksa" karena tuannya yang kadang cuek, atau kadang gak dikasi makan..
Kenapa kita tidak bisa setia terhadap sesuatu, atau seseorang? Biar keadaanya sulit sekalipun, bahkan terkadang harus menyakiti diri sendiri.

Itu aja yang gue tulis kali ini. Maaf kalo ada yang kurang berkenan. Dan maaf juga kalo memang tulisannya berantakan. Karena nulisnya di tengah malam, sih. Cya later all! ;)
Wednesday, 19 March 2014

Birthday, and "Rest in Peace"


Kali ini gue enggak ngepost kayak biasanya. Kali ini, gue bakal ngepost tentang kejadian yang membuat perasaan gue bercampur aduk menjadi satu.

Dan iya. Tanggal 13 Maret 2014 gue naik umur. Yang gue rasakan, sama saja kaya tahun-tahun kemarin, hanya saja... Dengan tambahan ada teman gue yang anniv, ada lagi teman gue yang lain yang naik umur dan.... Rasa kehilangan yang terlalu dalam, yang enggak pernah gue sangka bakal terjadi di tanggal itu.

Iyap. Kehilangan.

"Saya belajar dengan saya melihat.
Saya belajar dengan saya mendengar.
Saya belajar dengan saya melihat dan mendengar.
Saya belajar dengan melakukan."
- Ikrar sebelum pembelajaran mulai.

Kalau lo adalah seorang murid SMP Negeri 1 Bandarlampung, sebagian dari kalian pasti tau milik siapa kata-kata itu. Seorang guru IPS, bisa dibilang IPS terpadu. Guru yang mengajar gue di kelas 8 selama kurang lebih empat bulan di semester pertama.

Yap. Ibu Sri Astuti, S.Pd.
Atau, dengan beratnya di hati, almarhum ibu Sri Astuti.

Okay. Flashback. Pertama kali gue liat ibu ini, keliatannya... "Sepertinya guru yang asik..". Dan dugaan gue bener. Asik beneran. Cara mengajarnya juga, bagi gue berbeda. Enggak seperti dulu jaman gue kelas 7 dan awal-awal kelas 8, terpisah. Jadi harus mengapal sendiri-sendiri. Ini tidak. Geografi, sosiologi, ekonomi, sejarah, digabung menjadi satu, ngebuat gue enggak susah-susah lagi menghapal empat pelajaran untuk empat kali ulangan.

Banyak hal yang gak bisa gue lupain dari ibu ini. Dari... Pertama kalinya gue bisa dapat IPS nilai 9 ke atas tanpa adanya ngepek ( berhubung IPS hapalannya... Lumayan. ), sampai ulangan tengah semester yang biarpun hasilnya pas-pasan, dan jawabannya bisa kaya novel, tapi beruntung tidak remedial. Ketika pula ia memberikan sebuah pin "Social studies, oke!", dan mengajak sekelas ( yang dulu gabungan dari kelas 8.6 dan 8.7 ) ke ruangan multimedia, dan pulang-pulang ke kelas, membawa banyak tissue untuk menghapus air mata, ketika banyak anak-anak kelas 8 gabungan di ruang meeting yang dihukum di tengah lapangan karena lupa mengerjakan PR, atau ketika gue ulangan Sosiologi remedial (iya, sosiologi musingin soalnya.), ibu itu mengatakan "Kok tumben Tu? Dapat segini? Biasanya bagus-bagus..."

I can't forget these.

Terakhir kalinya gue melihat ibu itu masih dalam masa bernafas, ketika di rumah sakit umum. Ia dirawat sehabis operasi pertamanya. Gue membelakan enggak try out matematika di tempat les gue demi untuk ngejenguk ibu itu. Gue cuma hanya bisa diam melihat ibu itu terbaring lemas dengan banyak kantung-kantung di ranjangnya.

"Ketika ibu itu udah banyak ngebantuin gue, tapi kenapa gue enggak bisa ngebantuin balik?"
- M. Hafizhaldi Alfarizi, ketika ngejenguk.

Gue ngerasa kasian dengan anaknya, sekaligus teman gue juga sekelas. Tapi jujur, gue lebih kasian sama adiknya yang kemungkinan baru berumur sekitar dua - tiga tahun. Anak balita tentunya belum tau perasaan orang di sekitarnya, bukan? Ia tak bisa merasakan galau ketika ibunya sedang lemas di ranjang, sehabis operasi. Barulah ia pada saat dapat merasakannya, baru ia tau kalau ibunya sudah tiada di dunia. Terlambat beberapa tahun ke depan.

Seminggu kemudian setelah gue ngejenguk dia, pas banget seminggu, ada kabar kalau ibu itu sedang kritis, di tengah hari. Satu sekolah melakukan yasin. Dan.... Sehabis yasin, air hujan seketika turun. Banyak teman gue heran, memang. Gue sendiri heran.

Jam dua lebih empat puluh lima menit, microphone sekolah mengeluarkan suara. Sebuah berita duka.

DEG!

Seketika gue kaget banget ngedengar suara "berita duka" aja. Gue langsung mikir, "Jangan-jangan..... Ibu Tuti?"

Dan, beberapa detik kemudian, nama itu disebutkan.

Sekelas, dan satu sekolah seketika merasakan duka yang tak tertahankan. Seluruh guru langsung ke rumahnya, dan dengan gue dan temen sekelas juga datang ke rumahnya. Ketika gue melihat almarhum di rumahnya, dan banyak foto-foto yang dipajang di bingkai berukuran lumayan besar, gue langsung flashback.

Dan seakan-akan, semua yang berlalu setahun setengah lalu, terjadi lagi di dalam pikiran.

"Ibu itu terlalu cepat untuk pergi... Ia masih terlalu muda untuk pergi.."
"Kenapa harus guru sebaik ibu ini yang pergi..."

Rest in Peace, Ma'am Sri Astuti. Semoga amal ibadahnya dapat diterima di sisiNya. Dan terima kasih atas semua yang engkau berikan kepada saya, dan seluruh anggota sekolah SMP Negeri 1 Bandarlampung. o:)

I won't forget you, Ma'am.

Thursday, 13 March 2014

Jealously?


Kalian pernah merasakan kecemburuan, iri hati? Seperti ketika ada teman lo yang emang dekat sama doi lo, dan lo gak bisa deketin dia karena sebuah alasan, atau ketika ada teman lo yang ulang tahun, dan dirayakan di kelas, dan lo hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya dirayakan kayagitu. Pasti aja: "Ah... Andaikan aja... Gue bisa kaya gitu.."

Kecemburuan. Hal yang pasti pernah terjadi ke semua orang. Mau secuek apapun juga orang, pasti dia pernah cemburu dengan seseorang. Bahkan, terkadang, orang yang cuek aja yah, bisa sesensitif orang yang oversensitive. So, never thought if people-who-always-don't-care will always don't care with all things.

Kecemburuan bisa muncul kapan saja dan di mana saja, ketika ia melihat sesuatu hal yang memancing hatinya agar menjadi "hangat". Baik cowok maupun cewek, juga. Namun hal ini biasanya cukup sulit bagi seseorang yang cuek, atau selalu berpikiran positif. Contoh, ketika lo sedang dalam hubungan dengan doi lo, dan ada orang yang mendekati doi lo, dan gossip mengatakan bahwa orang itu suka sama doi lo, kalau yang berpikir positif, hati lo akan mengatakan "Slow ajalah, toh cuma deket sebagai temen kan..". Kalau lu sensitif, kemungkinan beberapa jam, atau menit kemudian, hati lo akan memanasi dirinya sendiri, terkadang bakal kebakar dengan cepat. Krik.

Dalam keluarga, biasanya muncul iri hati juga kepada saudara. Apalagi, kakak atau adik kandung. Biasanya, iri hatinya karena saudara lo itu mempunyai sebuah hal yang lebih baik daripada lo. Atau, lo yang merasa enggak sama dilakuinnya dengan orang tua lo, dengan adik lo. Atau yang sering terjadi, seorang saudara yang iri akan sepupunya yang ulang tahunnya dirayain, yang pemikiran lo itu "Kenapa gue yang lebih muda dari dia tapi enggak dirayain.. Malah pada kaya lupa semua sama ulang tahun gue...".

Dan ketika saat malam hari di rumah. Saat-saatnya bakal bosan di kamar. Mau belajar enggak mau ( kecuali, saat esok harinya ulangan ), dan mau tidur juga enggak mau. Maunya, pasti buka HP, kalo enggak browsing, chat sama temen atau doi. Dan ketika lagi asiknya main HP, tau-tau orang tua datang ke kamar, dan... "Hey! Kamu itu belajar lagi! HP aja kerjaannya..."

Di saat itu, pasti lo pengen jawab "Temen-temen aku aja pada gak belajar kok!", dan jawabannya pasti "Alah, alasan! Coba ntar ditanya temen kamu, ada enggak yang malam-malam gini buka HP kaya kamu!". Lo cuma bisa diam pasti kalo udah gini. Tapi inilah yang membuat iri hati muncul, lagi. Pasti lo berpikiran, "Kenapa si dia ini enggak pernah kena marah yah kalo enggak belajar... Bisa yah.. Gue kena marah terus coba tiap hari.. Kenapa dia enggak.."

Terkadang ironisnya, kecemburuan juga dapat muncul karena kesalahan diri sendiri. Misal, ketika lo dan adek lo diberikan uang beberapa juta untuk membeli barang-barang yang diinginkan. Ketika lo belinya sebuah laptop idaman yang memang harganya hampir menghabiskan uang yang diberikan, adek lo hanya beli sebuah HP, dan sisanya ditabung, yang katanya "Sayang, mending buat beli paket kuotanya aja..."

Dan dalam beberapa bulan kemudian, ketika lo butuh uang untuk beli sesuatu, uang itu kan udah kepake hampir semua buat laptop. Lo minta orang tua, gak dibolehin. Dan lo ngeliat adek lo yang masih ada setengah dari uang yang diberikan. Lo cemburu, dan pasti komentar "Tau gitu enggak gue beli yang lebih murah aja deh... Kampret".

Dan, yah, untuk post ini, sampai sini saja dulu. Mungkin emang enggak sebanyak yang sebelumnya, but it's better than nothing ;)

Cya later and keep writing as our hobby!
Wednesday, 5 March 2014

Time of the World

Blogger TemplatesMy Blogger TricksAll Blogger Tricks

Pageviews

Video Bar

Loading...
Powered by Blogger.

- Copyright © Life of a Teenager -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -