Blogger Tricks
Thursday, 13 March 2014


Kali ini gue enggak ngepost kayak biasanya. Kali ini, gue bakal ngepost tentang kejadian yang membuat perasaan gue bercampur aduk menjadi satu.

Dan iya. Tanggal 13 Maret 2014 gue naik umur. Yang gue rasakan, sama saja kaya tahun-tahun kemarin, hanya saja... Dengan tambahan ada teman gue yang anniv, ada lagi teman gue yang lain yang naik umur dan.... Rasa kehilangan yang terlalu dalam, yang enggak pernah gue sangka bakal terjadi di tanggal itu.

Iyap. Kehilangan.

"Saya belajar dengan saya melihat.
Saya belajar dengan saya mendengar.
Saya belajar dengan saya melihat dan mendengar.
Saya belajar dengan melakukan."
- Ikrar sebelum pembelajaran mulai.

Kalau lo adalah seorang murid SMP Negeri 1 Bandarlampung, sebagian dari kalian pasti tau milik siapa kata-kata itu. Seorang guru IPS, bisa dibilang IPS terpadu. Guru yang mengajar gue di kelas 8 selama kurang lebih empat bulan di semester pertama.

Yap. Ibu Sri Astuti, S.Pd.
Atau, dengan beratnya di hati, almarhum ibu Sri Astuti.

Okay. Flashback. Pertama kali gue liat ibu ini, keliatannya... "Sepertinya guru yang asik..". Dan dugaan gue bener. Asik beneran. Cara mengajarnya juga, bagi gue berbeda. Enggak seperti dulu jaman gue kelas 7 dan awal-awal kelas 8, terpisah. Jadi harus mengapal sendiri-sendiri. Ini tidak. Geografi, sosiologi, ekonomi, sejarah, digabung menjadi satu, ngebuat gue enggak susah-susah lagi menghapal empat pelajaran untuk empat kali ulangan.

Banyak hal yang gak bisa gue lupain dari ibu ini. Dari... Pertama kalinya gue bisa dapat IPS nilai 9 ke atas tanpa adanya ngepek ( berhubung IPS hapalannya... Lumayan. ), sampai ulangan tengah semester yang biarpun hasilnya pas-pasan, dan jawabannya bisa kaya novel, tapi beruntung tidak remedial. Ketika pula ia memberikan sebuah pin "Social studies, oke!", dan mengajak sekelas ( yang dulu gabungan dari kelas 8.6 dan 8.7 ) ke ruangan multimedia, dan pulang-pulang ke kelas, membawa banyak tissue untuk menghapus air mata, ketika banyak anak-anak kelas 8 gabungan di ruang meeting yang dihukum di tengah lapangan karena lupa mengerjakan PR, atau ketika gue ulangan Sosiologi remedial (iya, sosiologi musingin soalnya.), ibu itu mengatakan "Kok tumben Tu? Dapat segini? Biasanya bagus-bagus..."

I can't forget these.

Terakhir kalinya gue melihat ibu itu masih dalam masa bernafas, ketika di rumah sakit umum. Ia dirawat sehabis operasi pertamanya. Gue membelakan enggak try out matematika di tempat les gue demi untuk ngejenguk ibu itu. Gue cuma hanya bisa diam melihat ibu itu terbaring lemas dengan banyak kantung-kantung di ranjangnya.

"Ketika ibu itu udah banyak ngebantuin gue, tapi kenapa gue enggak bisa ngebantuin balik?"
- M. Hafizhaldi Alfarizi, ketika ngejenguk.

Gue ngerasa kasian dengan anaknya, sekaligus teman gue juga sekelas. Tapi jujur, gue lebih kasian sama adiknya yang kemungkinan baru berumur sekitar dua - tiga tahun. Anak balita tentunya belum tau perasaan orang di sekitarnya, bukan? Ia tak bisa merasakan galau ketika ibunya sedang lemas di ranjang, sehabis operasi. Barulah ia pada saat dapat merasakannya, baru ia tau kalau ibunya sudah tiada di dunia. Terlambat beberapa tahun ke depan.

Seminggu kemudian setelah gue ngejenguk dia, pas banget seminggu, ada kabar kalau ibu itu sedang kritis, di tengah hari. Satu sekolah melakukan yasin. Dan.... Sehabis yasin, air hujan seketika turun. Banyak teman gue heran, memang. Gue sendiri heran.

Jam dua lebih empat puluh lima menit, microphone sekolah mengeluarkan suara. Sebuah berita duka.

DEG!

Seketika gue kaget banget ngedengar suara "berita duka" aja. Gue langsung mikir, "Jangan-jangan..... Ibu Tuti?"

Dan, beberapa detik kemudian, nama itu disebutkan.

Sekelas, dan satu sekolah seketika merasakan duka yang tak tertahankan. Seluruh guru langsung ke rumahnya, dan dengan gue dan temen sekelas juga datang ke rumahnya. Ketika gue melihat almarhum di rumahnya, dan banyak foto-foto yang dipajang di bingkai berukuran lumayan besar, gue langsung flashback.

Dan seakan-akan, semua yang berlalu setahun setengah lalu, terjadi lagi di dalam pikiran.

"Ibu itu terlalu cepat untuk pergi... Ia masih terlalu muda untuk pergi.."
"Kenapa harus guru sebaik ibu ini yang pergi..."

Rest in Peace, Ma'am Sri Astuti. Semoga amal ibadahnya dapat diterima di sisiNya. Dan terima kasih atas semua yang engkau berikan kepada saya, dan seluruh anggota sekolah SMP Negeri 1 Bandarlampung. o:)

I won't forget you, Ma'am.

Leave a Reply

Time of the World

Blogger TemplatesMy Blogger TricksAll Blogger Tricks

Pageviews

Video Bar

Loading...
Powered by Blogger.

- Copyright © Life of a Teenager -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -