Blogger Tricks

Archive for 2014

Candle, Fire, and Life

BLilin dan api. Tanpa lilin, gak ada api, gak ada kehidupan. Tanpa api, lilin ada, hidupnya rasanya kayak gak ada guna.

Anggap saja lilin itu elo, dan api adalah "hidup" lo.

Kenapa bisa hampir sama gitu?
Banyak alasannya.

Bisa jadi karena lilin yang sudah dihidupkan itu ditutup oleh semacam pelindung. Lama kelamaan api itu bakal mati, karena tidak adanya oksigen untuk proses oksidasi pembakaran. Sama aja kayak hidup, hidup yang terlalu tertutup bakal jadi hidup yang
... Oke. Lo tau kayak gimana. Udah susah. Kebanyakan iri ini itu.

Lilin juga (harus) selalu hidup. Membuatnya makin lama makin pendek. Terasa seperti hidup lo dari awal sampai akhir bernafas. Api dari lilin juga bisa tertiup dan bergoyang-goyang hingga hampir mati. Seperti rasa keputus asaan.

Lilin ada juga yang jatuh dan (hampir) mati. Seakan seperti lo kena suatu musibah, tapi bisa berdiri lagi. Atau kalau tidak beruntung, meninggal.

Ada juga parafin dari lilin bisa 'digunakan kembali' dengan sumbunya. Tak bertahan lama memang. Sama kayak orang yang pengen hidup di dunia lama-lama meskipun waktunya sedikit.

Anyway, thanks for a bestfriend of mine for a word, 'cande' . Simple, but it inspires me to post this. :D

Dan maaf kalau tulisannya gak sepanjang dulu-dulu. Susah dapat ide dan sekolah baru ini memang sedikit berat. #curcol.

Sunday, 7 September 2014

How Changes Made

Perubahan?
Suatu hal yang terkadang membuat banyak orang menjadi gila.

Kenapa?
Karena perubahan itu terkadang dapat terasa merugikan.

Namun kenapa harus dilakukan?
Karena justru 'menyakiti diri sendiri awalnya dengan berubah' lebih baik daripada 'disakiti oleh masa depan akibat masa lalu yang salah'.

Yap, that's changes.

Perubahan itu tergantung setiap orangnya aja. Ada yang karena tekanan keadaan, atau karena sesuatu yang harus dilakukan karena paksaan. Berubah juga enggak bisa terlalu dipaksa. Terlalu dipaksa malah akan mempersulit.

Termasuk merubah diri sendiri dalam hal sifat asli.

Kenapa? Sifat asli adalah sifat yang terbuat sejak kita kecil mengerti soal ini-itu. Sifat yang terbentuk karena keadaan sekitar, dan kelakuan orang tua. Sifat yang sudah mengalir di jiwa sejak kecil. Itu kenapa, sulit diubah.

Jadi, butuh waktu yang lama memang.

Beberapa sifat juga bisa berubah karena keadaan. Keadaan mendesak. Apa keadaan ekonomi, lingkungan sekitar, banyak deh.

Misalkan, jika ada sebuah sifat yang membuat lo terpuruk di suatu keadaan, keadaan itu dapat merubah diri lo. Biar lama juga memang, namun pasti bisa. Atau ketika ada keadaan ekonomi sedang sulit karena keadaan keluarga. Lama kelamaan kalian akan terbiasa akan itu.

Kadang, malah enggak bisa berubah juga bisa terjadi. Karena emang menurut lo itu udah bagus. Ini yang sulit. Banget.

Perubahan juga bisa karena seseorang. Kemungkinan lo ada sesuatu dengannya, jadi lo harus berubah karena itu. Apa agar ingin orang itu jadi merasa lebih baik dengan lo, atau suatu hal yang lain.

Enggak banyak yang gue tulis kali ini, karena semua itu sudah jadi intinya dari topik ini.

Stay tuned, more post will come :D

Sunday, 10 August 2014

Honesty.

Nah. What's honesty?

Ketika lo stuck dalam sebuah masalah, atau ditengah-tengah memikirkan alasan untuk membohongi lagi seseorang yang percaya dengan lo, atau ketika seseorang yang tidak kuat lagi mengangkut beban yang tak terlihat, dan hanya bisa dirasakan sendiri: beban perasaan di hati.

Apa yang bakal lo lakukan? Mendiamkan saja masalah itu tetap menjadi tegang? Diam saja karena takut selama ini bohong? Atau bunuh diri karena beban yang enggak bisa diekspresikan/curhat?

Semua itu bisa selesai. Dengan mudah. Kalau lo jujur.

Kalau ada masalah, berbohong malah akan menambah beban lagi di masa depan. Mending, bilang yang sebenarnya, apa orangnya terima apa tidak kalau lo udah jujur, biarkan saja. Biarkan beberapa saat sampai suasana mencair. Memang membutuhkan waktu. Namun, kalau bohong terus dan ujung-ujungnya ketauan? Meskipun itu beberapa tahun kemudian? Kan jadi beban lagi itu.

Membohongi teman yang udah percaya lo? Memang bisa ia percaya akan itu. Mending kalau enggak ketauan, tapi karena suatu hal, atau karena seseorang yang membocorkan sebuah kebenaran dibalik semua kebohongannya? Ujung-ujungnya, ruginya banget. Bukan teman aja, kepercayaan kepada semua orang. Kalo orang-orang pada enggak percaya lo, mau gimana?

Soal yang ketiga. Kalau ada beban di hati, keluarkan saja. Kepada orang yang tepat tentunya: bisa diajak curhat, biarpun tanpa saran juga. Setidaknya, itu bisa membuat lo merasa lebih baik. Lebih baik juga kalau lo jujur langsung kepada orangnya yang dirahasiain akan suatu hal.

Biarpun ia tak terima juga, toh setidaknya, ia tau yang sebenarnya. Ujung-ujungnya, nanti ia bakal sadar sendiri.

Maybe that's all.

Saturday, 5 July 2014

Ketika Jarak Menyusahkan..

Pernah kesal dan selalu kepengen nangis karena menunggu balasan dari doi yang tidak dibalas-balas? Karena ia terlalu sibuk akan kehidupannya di dunia nyata,  dan lo yang menunggu di dunia maya hanya bisa...  Menunggu?

Bah. Urusan seperti itumah, terlalu sering terjadi.  Apalagi, kalau yang beda sekolah dan jaraknya cukup jauh, berbeda kota, provinsi, bahkan aja...  Satu di Jakarta satunya di Tokyo. Krik.  -_-

Mungkin yang terlalu biasa dengan hubungannya yang berjarak itu, akan semakin jarang untuk sedih.  Atau, yang enggak pernah terbiasa, ujung-ujungnya jadi akhir hubungan saat nanti.

Jarak adalah pemisah antar orang yang paling kejam. Terkadang malah lebih dari pihak ketiga yang mengganggu hubungan pacaran. Ironis memang. Namun itu nyata. Kalau pihak ketiga masih bisa ketauan, lha, kalau udah jarak yang ngeganggu, mau nyalahin siapa? Operator seluler? HP? Marah-marahin doi karena susah mampir? -_-

Dan, jarak juga dapat membawa konflik terkadang. Contoh, karena lo susah banget kontak dengan doi lo, lo ngambil substitusi. Apa itu substitusi? Sebuah, seekor atau seorang benda, atau hewan, atau seseorang yang dapat melampiaskan rasa sesuatu yang diinginkan karena enggak tercapai dengan hubungan dengan jarak itu. Eh, jangan salah. Sebuah kertas dengan tulisan romantis aja bisa jadi substitusi loh.
Atau, dan tentunya dapat membawa konflik karena dianggap selingkuh, substitusi cowok/cewek lain mending dihindarkan. Kalaupun mau juga, jangan sampai ketauan. Kalau ketauan, setidaknya ada alasan "karena kamu sibuk terus sih sama urusan kamu". Gondok gondok deh lo.  Wkwkwk-_-

Jarak itu sesuatu yang tak mungkin dilawan. Kalaupun juga, mau melampiaskan sesuatu dari jarak dengan telepon, atau videochat, ada batasannya. Pulsa, kuota, dan batasan dari alat yang digunakan dan jaringan di daerah, dan mahalnya pulsa dan kuota bagi beberapa orang, alasan dari banyak orang yang enggak ingin hubungan dengan jarak.

Plus, hampir lupa dijelaskan, bahwa yang biasanya membuat sibuk akan dunia nyata itu...  Teman.  Pekerjaan. Pelajaran sewaktu sekolah. Dan HP yang ditelantatkan. Atau, karena keasikan akan ngegame di rumah, dan karena keasikan ngaca di depan kaca.-_-
Mungkin banyak orang sulit nerima akan alasan itu. Contohnya, "kamu itu kok sampai ngelupain aku sih? Kamu taugak berapa lama aku nunggu balesan kamu?"

Jarak juga menyulitkan untuk menyelesaikan masalah. Banyak hubungan yang terputus karena ini. Terkadang malah, ada yang datang ke kota doinya dan ke rumahnya demi menyelesaikan masalahnya. Ini.. Ngabisin waktu dan uang. Apalagi kalau beda negara. Mendig kalo deket, kalau satunya ada di Antartika, gimana? -_-

Mungkin ițu aja kali ini..  Karena memang nggak banyak yang musti diketik.
Dan ingat ini. Kalau emang lo gak suka nunggu, sulit menerima alasan, mending jangan LDR deh.  Susah.

Sunday, 22 June 2014

Science vs Romance

Simple ever post for today. Only to explain. What's "science vs romance".
Got these words from a song, by a indie-rock band Rilo Kiley, "Science vs Romance". Somewhat, the music isn't the same as I want to explain here.

Science, is your sanity. Your brain. Your way to think how to life, either with confuseness, or with too a lot happiness to explain.
Romance, your feeling to everything around you. Love. Friendship. Strangers around you. An unpredictable, ninety-five percent act before think, selfish heart.

So, why they both always have a conflict?
Hey, simple. Just like a kid with his/her parents. The kid sometimes have a selfish, want do anything by him/herself. While parents not even let him/her do it even once.

But why they also needed by life, why not only science, or only romance?
Life's fair bro. Without science, everybody in the world only feels. Not think what they do. Either without romance, plin-plan things will always happen. You met a boy, you think you love him. But another boy came, and you love with him, and these feelings are instantly appear, then gone.

Romance is unexplainable. Even if "decrypted" with science, sometimes. Sometimes people can have feelings tp multiple peoples. Heart makes confusion to brain, to choice which one is the one with the highest feeling, (of love).

I always think if romance always win. Because feeling controls everything in our life. Sanity controls some too, but not as much as feeling.

Ever say a "dirty" word even you're a girl? Not your sanity controls it. Your feeling do.
Ever have a confusion when you "love him, or not"? Sanity can't decide it nicely, only feeling can do perfectly. Even if sanity choice, sometimes it'll gone awkward at the last.
Ever can't do move on or forgeting something nice but hurts, or it's a awkward moment of your life? Can sanity "erase the memories to the recycle bin and erase it permanently"? No.
"Awareness that things were not so unbearable as they seemed" - Anonymous.

And at last,
"Sometimes to stop the idiots, you have to confuse the smart ones. Sanity doesn't smart at all as it seemed. Ironically, they were the idiots for feelings.". - Anonymous, (little) edited by me.

Thursday, 5 June 2014

(Confusing) National Exam.

Ujian nasional?

Total seratus dua puluh soal yang diacak-acak dalam sistem berpuluh-puluh paket yang kita enggak tau itu paket berapa, semua itu dikerjakan dalam kurang lebih total 480 menit, dengan tanpa bantuan di sekitar lo, wajib ada dua buah pensil dan sebuah penghapus ( yang biasanya dipakai penghapus untuk UN ), dua pengawas yang kemungkinan besar banget enggak lo kenal, tambahan pengawasan kamera CCTV dari belakang, dan sebuah kartu peserta Ujian Nasieonal yang harus dijaga seperti bayi, karena "tidak ada penggantinya".

Persiapannya juga butuh berbulan-bulan, padahal mengerjakannya hanya butuh waktu 480 menit kurang lebih. Juga kalau setiap soal salah, nilai akan berkurang 0,2. Salah lima berati 1,0. Juga belum lagi kalau entar ada kesalahan soal dan bingung mau diapain.

Juga, kalau nilainya enggak sesuai yang diharapkan, ujung-ujungnya kadang terpaksa menerima itu. Kenapa "terpaksa menerima itu"? Karena kalau enggak sesuai harapan, otomatis bisa aja enggak masuk SMA yang diinginkan. Belum lagi kalau misalkan lo ada janji dengan orang tua, kalau masuk SMA ini, bakalan dibelikan sesuatu, kalau enggak masuk, malah enggak dapat. Nyesek lagi ujung-ujungnya.

Itu masih lebih baik rasa sakitnya dirasakan setelah bertempur. Kalau sebelum bertempur udah kena rasa sakit duluan, kaya misalkan lo diputusin sama pacar lo dengan alasan "mau fokus UN", itu.. Sulit.
Kepikiran kenangan-kenangan saat mengerjakan soal. Itulah kebanyakan yang terjadi.

Namun, ada juga terjadi ketika pengawas memberi kesempatan untuk para peserta memperbolehkan untuk mencontek. Mengherankan, namun keren bagi para peserta itu. Hanya terjadi sangat sedikit seperti itu. Dan, terlalu jarang ada kelas yang beruntung bisa seperti itu.

Dan, angkatan '14 sekarang ini sekarang sedang belajar Bahasa Inggris kemungkinan saat gue ngepost ini. Atau, bisa aja sedang belajar yang lebih sulit, IPA.
Atau, sedang stress karena memikirkan soal-soal matematika yang baru saja dikerjakan pagi tadi, dengan dua buah soal "tingkat internasional" yang salah satunya gak bisa dilogikain, dan selain anak-anak olimpiade, terpaksa jawab diantara A, atau B, C dan D. Mending matematika cuma hitungan semua, IPA yang ada hitungan + hapalan, kalau ada soal "tingkat internasional" gitu? Sip bener.

Dan tentunya dengan PLN yang.. Sialan, karena ketika masa UN gini yang genting banget, harus ada pemadaman listrik. Katanya sih, ada penggantian kabel-kabel listrik apaa gitu. Dan jadinya ada pemadaman bergilir hingga 1 bulan, atau hingga ( katanya ) 17 Mei. Astaga. -_-

Mungkin malam ini gue gak bisa ngetik terlalu banyak karena.... IPA. -_-
So, cya later! :)
Tuesday, 6 May 2014

How to Erase a Pain

Cara menghapus rasa sakit? Tergantung rasa sakit apa dulu. Kalau keseleo, diurut. Sakit perut, makan. Kalau sakit hati, banyak cara untuk setiap orang itu sendiri.

Sakit hati itu sendiri, penyebabnya banyak bener. Ada yang karena kesalahan diri sendiri, ada yang karena persahabatan, nilai ujian nasional yang ngebuat enggak bisa masuk SMA favorit, atau karena masalah hati yang terlalu sering ditusuk dengan hal-hal yang "tajam".

Cara terbaik bagi setiap orang pasti berbeda-beda. Ada yang bisa melupakan masalah dengan ketawa lepas bareng teman, ada yang ketawa sendiri karena aksi bego di film komedi, ada yang dengan cara menyakiti diri sendiri ( ini biasanya karena sakit yang disebabkan kesalahan sendiri, biasanya, dan terkadang. ), dan yang paling simple, menyendiri dan diam saja di suatu tempat. Dan ada juga yang suka melampiaskannya kepada sesuatu, atau seseorang (yang tidak bersalah).

Sakit hati itu sendiri, ada yang frontal aja keliatannya kalau dia lagi "sakit", ada juga yang diam aja. Diam seakan enggak tau apa-apa. Diam di luar tapi di dalam seperti hati ibaratkan air yang dipanaskan. Kadang kompornya bisa mati sendiri, atau tetap hidup terus.

Dan jika udah sakit hati, sama aja udah emosi, kan. Kadang juga sedih sih. Tapi ibaratkan sedih/emosi itu air panas. Dan air dingin adalah kesabaran. Butuh banyak air dingin untuk menyamakan suhu antara air panas dan air dingin itu. Dan makin panas air panas itu, makin banyak juga air dingin yang diperlukan. Sama aja kaya ketika lo sakit hati, sedih rasanya sulit hilang, emosipun juga hilangnya sulit. Bisa aja justru kadang air dingin malah lebih sedikit jumlahnya daripada air panas. Jadi, seperti enggak bisa hilang rasa "sakit" itu.

Namun, bagaimanapun juga, "air dingin" pasti akan selalu ada, biar lo bilangnya "udah habis kesabaran gue..". Yang ada, lo kurang kesabaran aja, itu aja kok ;)

Enggak terlalu banyak yang akan gue tulis di sini. Karena juga emang pembahasannya sedikit yang bisa gue beri. So, cya later! :)
Wednesday, 30 April 2014

Dark?

This darkness caused by many things. A lot of them. Including, PLN blackouts, and confuseness of war in my heart. Feels I wanna erase them both, but useless.

I can't control a national company for controlling the electricy distribution. So I can just carry on and... Do nothing when PLN do it blackouts. 
And I can't control what's inside my heart. Confuseness of war shit. 'Give Your Heart a Break' by Demi Lovato is a nice choice for this, or, 'Come Back to Me' by Akon. 
The core is, I can't control too much of my already-nearly filled up emotion. But I don't know any choices rather than quiet. Anyways, 'quietness is the best revenge', right?

Waiting for the electricy back works again, or wait for someone understand how I feel everyday when I need to waiting a 'single-f***ing-text-message-for-hours-after-minutes-texting'. Is it fare? No.
Said waited just once for two hours, doesn't worth like 3 hours, or even half of day waiting for nearly EVERYDAY.

And, when it's blackout, I always tried the best to conserve my phone battery, just for texting you. In last seconds, one percent of battery percentage is enough for a closing time of texting, I mean, "Goodnight. Nice dream. Ilysm. :)".
And sometimes you don't understand how much troubles I get when I do conserve battery. Turn off data service to dramatically reduce battery usage, sometimes mean I lost a lot of (sometimes very important ) information from chat apps ( BBM ).

Sometimes you don't understand, how much time I wasted my time to waiting a single blink of my phone's LED. Do nothing. Just waiting my phone vibrating and blink it's LED. Hoping something come inside. It can nearly for hours per day, means a day or more in month.

Imagine it. A day or more in month. I could have a nap for that, but I afraid I missed it.

"Sand rethanks refore uthe yohours ofa uwaiting latime, whoe-usesin-uthe-yophone-righta-nowa.
Rethanks. Ita helpsa mein alota refore NOTA tacontactsoning mya nagirl.

Haha."

And then waked up, realised if it was a dream. Saw a red-light LED blink, and it's.....
"Fuck. Haha."
Wear the earphone, "More than Words" by Westlife, "Sad" by Maroon 5, "Welcome to My Life" by Simple Plan, "Wake Me Up When September Ends" by Greenday.
Then gone slept again.

Tuesday, 29 April 2014

Makin Tua, Makin Sulit.


Kenapa kalau kita semakin tua umurnya, maka semakin “sulit” kehidupan kita? Apalagi, ketika lo di sebuah keluarga, lo anak yang paling tua. Atau bisa dibilang: anak sulung. Apalagi juga, kalau lo punya adek banyak. Krik-_-

Dan biasanya, anak sulung juga kebanyakan yang diminta tolong, kebanyakan disuruh, dan kebanyakan kena marah. Sementara adek-adek hanya diam menonton TV atau asik dengan komputer. Atau, ketika adek ingin meminjam HP lo, saat lo sedang asiknya chat sama gebetan, dan lo gak ngasi, adek lo lapor orang tua, orang tua marah, katanya harus dikasi HPnya, dan dikembaliinnya ketika gebetan sudah sulit untuk dikontak ( kaya ketika ia waktu belajar, misalkan ). Ini…. *dafuq facepalm.

Dan karena adek sering digituinlah, jadi setiap hari ia minjem harus dikasi. Alhasil, kadang resikonya bisa jadi PDKT gagal karena tiap hari beberapa jam berlalu yang seharusnya digunakan untuk menanyakan kabar atau sekedar chat, karena HP dipake main adek buat main Pou.

Atau kasusnya kaya ada teman gue. Adeknya yang berbeda umurnya dua tahun dengannya, malah adeknya kaya sebagai “yang lebih tua” daripada kakaknya. Setiap hari, HPnya dipinjam. Katanya sih, buat chat sama temannya di BBM juga dari HP dia. Cuma aja, dipinjamnya gak nahan, sekali make bisa kurang-lebih setengah jam, bahkan kalau ada notifikasi BBM untuk kakaknya pun enggak dihiraukan. Terkadang inilah yang merugikan juga, karena.. Siapatau aja BBM yang masuk itu penting bagi kakaknya, seperti info untuk ulangan, atau kisi-kisi untuk ulangan, atau juga, dari gebetannya. Mending kalau cuma sekali. Kalau berkali-kali? Bisa berapa jam itu. Mending juga kalau dipinjamnya baik-baik, ini kalau diminta balik aja, ujung-ujungnya main tabok-tabokan atau cakar-cakaran. Krik.
*permanent dafuq facepalm.

Dan anak yang paling tua adalah anak yang harus selalu mengalah kepada adiknya. Baik adiknya salah juga, pasti bilangnya, “Mamaaa, kakaknya nakaaal!”. Emangsih, kebanyakan orang tua sebenarnya cuek karena itu. Tapi kesal juga kalau setiap apa-apa dengar kata-kata itu melulu. Bosen. Dan mengalah juga, karena biasanya, adik-adik yang saling sebaya akan lebih membela temannya yang sebaya daripada kakaknya. Misalkan, kaya gue baru main PS2 setengah jam. Dibilangnya….. Satu jam.
Dalam hati, gue bilang “Ndasmu satu jam!”.
Namun sialnya, karena dibandingkan gue yang paling tua SMP sendiri di situ, dengan adek-adek gue beserta sepupu gue yang berjumlah 5 orang, pada ribut semua, “Udah satu jam itu daritadii!”, gue langsung lawan aja, “Aih, orang baru setengah jam segini geeeh. Kok semau coba..”, dan itu berlanjut sampai lima menit kemudian yang dimenangkan oleh 5 adik gue. Mereka main sampai malam. Krik.
*double permanent-statue dafuq facepalm.

Dan, untuk urusan makanan juga. Berhati-hatilah kalian kalau membawa sebungkus makanan untuk cemilan pribadi. Karena terkadang, cemilan itu, kalau diliat adek lo, bisa habis dalam sekejap. Mending kalo habis sama balita yang emang unyu, lo mungkin bisa maklum. Tapi kalo sama adek-adek yang rakus yang kerjaannya juga jajan tiap hari, sudahlah. Kabur.

Dan terakhir yang gue tau, dan yang paling ngeselin: adek kepo soal privasi.
Setiap gue kadang chat sama teman gue, yang cewek, terkadang kalo adek gue liat nama chatnya, pasti bakal di cie-ciein. Dan juga bakal jadi gosip tersendiri di kalangan anak kecil.
Percayalah, anak kecil itu gossipnya aneh-aneh, tapi bisa parah dan frontal.
Seperti gue dulu, adek-adek gue pada ngumpul, sambil nonton TV dan.. Ngegosip tentang teman-teman sekolahnya. Gue cuma nonton dan mendengarkan aja. Dan tau-tau, ada seorang adik gue bilang, "Eh, tau enggak, si itu katanya pernah ciuman coba masa si itu". Adek-adek gue semua langsung respon "hiiii" dan ketawa. Gue cuma bisa... Diem dan, "Kayaknya dunia ini makin aneh deh. Anak kecil aja udah tau kayak gituan. Krik."

Balik ke masalah privasi. Adek itu suka yang namanya bongkar bangkir privasi. Dan kebanyakan bakal dijadiin kongkean. Dan ujung-ujungnya sampai ke orang tua. Yang sial itu kalau ada orang lagi pacaran, tapi orang tuanya enggak bolehin. Ada adeknya yang iseng buka HP, lalu nemu chat kakaknya dengan pacarnya. Ketika HP mau diambil si kakak, tau-tau adek ngongek, "cieee kakaaak pacaran yaaah?", tentu aja si kakak cuma bisa.. Gondok dan diem.

Mending kalo adiknya udah enak diajak kompromi dan bisa diam. Kalo ia frontal? Tamat sudah. Gak lucu ajasih, alasan putusnya..

"Maaf yah sayang, aku mau putus aja.."
"Kenapa memangnyaaa? Apa aku ada salah? Atau ada apa gitu? Bilang sama aku dooong. Jalannya kan enggak harus putus kan..."
"Karena... Adek aku yang frontalin ke orang tua aku kalo aku pacaran sama kamu"
*di chat hening sementara...

Mungkin itu saja dulu yang gue tulis untuk kali ini. Cyao all!

Friday, 28 March 2014

Cats Mirroring Our Life?


Oke. Kucing.
Kucing adalah hewan yang bisa dibilang.. Unyu. Dibandingkan dengan anjing yang kalo gue mau sejinak apapun, kalau dia mendekat, gue akan kabur. -_-

Kenapa gue sekarang ini ngebahas tentang hewan mamalia darat yang bernama "cat" ini? Karena...

Sebenarnya, menurut gue aja, kucing itu kehidupannya... Mirip manusia. Cuma aja, lebih kebanyakan "sakit"nya daripada enaknya.

Kucing, ketika mereka sedang "meong-meong", dan nada suaranya sedih, seperti nangis. Atau, ketika lo sedang bermain-main dengan anak kucing, dan ujung-ujungnya anak kucing itu ngikutin lo sampai masuk rumah. Lo malah ngunci anak kucing itu dari luar, dan.. Anak kucing itu dengan setianya nunggu di depan pintu sampai pintu itu dibuka, atau kebanyakan kucing itu akan pergi buat melakukan sesuatu yang lain.

Namun yang perlu dikasihani ketika kucing itu dengan setianya nunggu di depan pintu. Memang, kucing tidak memiliki perasaan, namun mereka punya rasa. Rasa untuk ingin disayangi, rasa untuk ingin dilindungi, dan rasa untuk diperhatikan. Itu kenapa, ketika lo sedang bermain-main dengan kucing, dan kucing itu keliatannya excited banget dengan lo, itu tandanya, mereka merasa disayangi dan diperhatikan, biar berbeda spesiesnya.

Itu kenapa, banyak kucing kampung juga sering datang ke rumah, bahkan sampe masuk rumah lo tiap hari, kalau lo suka main dengan kucing yang sama tiap hari. Terkadang malah kucing itu berguna: jadi pemburu tikus. Cuma aja kadang: hati-hati lauk buat makan lo abis dimakan kucing. -_-

Banyak kucing yang biasanya setia, bahkan kucing kampung pun bisa. Ambil contoh aja, kucing di rumah gue. Karena adek gue setiap hari mainan dan ngasi makanan ( yang dikasi potongan sosis yang masih beku, belum digoreng-_- ) ke kucing itu. Lama-lama, itu kucing jadi tiap hari mainan di rumah gue, bahkan aja, dia suka dengan setianya nunggu dielus di karpet ruang keluarga. Malah aja, dia sering ( dan sekarang, tiap hari ) tidur di belakang rumah gue. Adek gue ngasi nama kucing itu terlalu simple, hanya mengganti satu huruf saja: Pucing. Beruntung aja, dia gak pernah boker sembarangan. Paling banter aja dia ngotorin rumah, sekali muntah di lantai dalam rumah. -_-

Tiap malam, ia pasti duduk di pintu, di dekat gudang di dapur. Untuk menunggu "target" berupa hewan kecil yang bisa menggigit dan menghancurkan apa saja yang ingin ia makan ( tikus, maksudnya ). Beruntung karena kucing itu, gak ada tikus yang berkeliaran di dalam rumah gue. Cuma aja, pernah ayam teriyaki gue dimakan abis sama dia diam-diam -____-

Sekarang, kenapa kucing bisa setia banget?
Karena kucing enggak punya pikiran, kan? Kucing hanya bisa merasakan. Jadi, kalau udah sekalinya dia "sayang" sama seseorang, dia akan setia asli.

Beda dengan manusia, rasa "sayang"nya dapat berubah-berubah. Karena adanya "hati yang dapat semau hidup mengganti nama yang tergantung kuat di dirinya".

Kucing juga ada yang hidup enak. Kalian taulah, kucing peliharaan yang harganya bisa jutaan rupiah per ekor. Makanannya Pedigree, atau Whiskas, bukan somai bekas gigitan karena enggak habis dimakan. Kucing kaya gini itu enak, tiap bulan dirawat di salon, gak bisa dicuekin, dan kadang juga, dia bisa melakukan sesuatu semau hidupnya. Kaya tiduran di kasur majikannya, atau boker sembarangan di karpet kamar mandi, misalkan.

Kalau kucing kampung yang jadi peliharaan? Bisa-bisa aja. Lah, tadi, contohnya si Pucing. Udah kaya hewan peliharaan di rumah gue dia. Dikasi makan ( biarpun hanya nasi dicampur lauk sedikit sih ), suka dielus, dan kadang juga dimainin-mainin.

Jujur gue selalu kasian sendiri kalo liat kucing lagi "sedih". Seperti yang gue bilang sebelumnya, ketika mereka "berisik", meong-meong ke sana kemari. Biasanya, kucing yang kaya gini lagi nyariin anaknya, atau emang karena laper belum makan. Kalo udah gitu, biasanya gue elus aja. Tapi awas, jangan sampai dicakar. Kucing juga bisa kaya manusia, ketika lagi emosi, mereka enggak mau diganggu. Ketika diganggu, emosinya meledak, dan ujung-ujungnya nyerang.

Jadi, kalau kucing aja bisa setia banget sama tuannya biar ia kadang "kesiksa" karena tuannya yang kadang cuek, atau kadang gak dikasi makan..
Kenapa kita tidak bisa setia terhadap sesuatu, atau seseorang? Biar keadaanya sulit sekalipun, bahkan terkadang harus menyakiti diri sendiri.

Itu aja yang gue tulis kali ini. Maaf kalo ada yang kurang berkenan. Dan maaf juga kalo memang tulisannya berantakan. Karena nulisnya di tengah malam, sih. Cya later all! ;)
Wednesday, 19 March 2014

Birthday, and "Rest in Peace"


Kali ini gue enggak ngepost kayak biasanya. Kali ini, gue bakal ngepost tentang kejadian yang membuat perasaan gue bercampur aduk menjadi satu.

Dan iya. Tanggal 13 Maret 2014 gue naik umur. Yang gue rasakan, sama saja kaya tahun-tahun kemarin, hanya saja... Dengan tambahan ada teman gue yang anniv, ada lagi teman gue yang lain yang naik umur dan.... Rasa kehilangan yang terlalu dalam, yang enggak pernah gue sangka bakal terjadi di tanggal itu.

Iyap. Kehilangan.

"Saya belajar dengan saya melihat.
Saya belajar dengan saya mendengar.
Saya belajar dengan saya melihat dan mendengar.
Saya belajar dengan melakukan."
- Ikrar sebelum pembelajaran mulai.

Kalau lo adalah seorang murid SMP Negeri 1 Bandarlampung, sebagian dari kalian pasti tau milik siapa kata-kata itu. Seorang guru IPS, bisa dibilang IPS terpadu. Guru yang mengajar gue di kelas 8 selama kurang lebih empat bulan di semester pertama.

Yap. Ibu Sri Astuti, S.Pd.
Atau, dengan beratnya di hati, almarhum ibu Sri Astuti.

Okay. Flashback. Pertama kali gue liat ibu ini, keliatannya... "Sepertinya guru yang asik..". Dan dugaan gue bener. Asik beneran. Cara mengajarnya juga, bagi gue berbeda. Enggak seperti dulu jaman gue kelas 7 dan awal-awal kelas 8, terpisah. Jadi harus mengapal sendiri-sendiri. Ini tidak. Geografi, sosiologi, ekonomi, sejarah, digabung menjadi satu, ngebuat gue enggak susah-susah lagi menghapal empat pelajaran untuk empat kali ulangan.

Banyak hal yang gak bisa gue lupain dari ibu ini. Dari... Pertama kalinya gue bisa dapat IPS nilai 9 ke atas tanpa adanya ngepek ( berhubung IPS hapalannya... Lumayan. ), sampai ulangan tengah semester yang biarpun hasilnya pas-pasan, dan jawabannya bisa kaya novel, tapi beruntung tidak remedial. Ketika pula ia memberikan sebuah pin "Social studies, oke!", dan mengajak sekelas ( yang dulu gabungan dari kelas 8.6 dan 8.7 ) ke ruangan multimedia, dan pulang-pulang ke kelas, membawa banyak tissue untuk menghapus air mata, ketika banyak anak-anak kelas 8 gabungan di ruang meeting yang dihukum di tengah lapangan karena lupa mengerjakan PR, atau ketika gue ulangan Sosiologi remedial (iya, sosiologi musingin soalnya.), ibu itu mengatakan "Kok tumben Tu? Dapat segini? Biasanya bagus-bagus..."

I can't forget these.

Terakhir kalinya gue melihat ibu itu masih dalam masa bernafas, ketika di rumah sakit umum. Ia dirawat sehabis operasi pertamanya. Gue membelakan enggak try out matematika di tempat les gue demi untuk ngejenguk ibu itu. Gue cuma hanya bisa diam melihat ibu itu terbaring lemas dengan banyak kantung-kantung di ranjangnya.

"Ketika ibu itu udah banyak ngebantuin gue, tapi kenapa gue enggak bisa ngebantuin balik?"
- M. Hafizhaldi Alfarizi, ketika ngejenguk.

Gue ngerasa kasian dengan anaknya, sekaligus teman gue juga sekelas. Tapi jujur, gue lebih kasian sama adiknya yang kemungkinan baru berumur sekitar dua - tiga tahun. Anak balita tentunya belum tau perasaan orang di sekitarnya, bukan? Ia tak bisa merasakan galau ketika ibunya sedang lemas di ranjang, sehabis operasi. Barulah ia pada saat dapat merasakannya, baru ia tau kalau ibunya sudah tiada di dunia. Terlambat beberapa tahun ke depan.

Seminggu kemudian setelah gue ngejenguk dia, pas banget seminggu, ada kabar kalau ibu itu sedang kritis, di tengah hari. Satu sekolah melakukan yasin. Dan.... Sehabis yasin, air hujan seketika turun. Banyak teman gue heran, memang. Gue sendiri heran.

Jam dua lebih empat puluh lima menit, microphone sekolah mengeluarkan suara. Sebuah berita duka.

DEG!

Seketika gue kaget banget ngedengar suara "berita duka" aja. Gue langsung mikir, "Jangan-jangan..... Ibu Tuti?"

Dan, beberapa detik kemudian, nama itu disebutkan.

Sekelas, dan satu sekolah seketika merasakan duka yang tak tertahankan. Seluruh guru langsung ke rumahnya, dan dengan gue dan temen sekelas juga datang ke rumahnya. Ketika gue melihat almarhum di rumahnya, dan banyak foto-foto yang dipajang di bingkai berukuran lumayan besar, gue langsung flashback.

Dan seakan-akan, semua yang berlalu setahun setengah lalu, terjadi lagi di dalam pikiran.

"Ibu itu terlalu cepat untuk pergi... Ia masih terlalu muda untuk pergi.."
"Kenapa harus guru sebaik ibu ini yang pergi..."

Rest in Peace, Ma'am Sri Astuti. Semoga amal ibadahnya dapat diterima di sisiNya. Dan terima kasih atas semua yang engkau berikan kepada saya, dan seluruh anggota sekolah SMP Negeri 1 Bandarlampung. o:)

I won't forget you, Ma'am.

Thursday, 13 March 2014

Jealously?


Kalian pernah merasakan kecemburuan, iri hati? Seperti ketika ada teman lo yang emang dekat sama doi lo, dan lo gak bisa deketin dia karena sebuah alasan, atau ketika ada teman lo yang ulang tahun, dan dirayakan di kelas, dan lo hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya dirayakan kayagitu. Pasti aja: "Ah... Andaikan aja... Gue bisa kaya gitu.."

Kecemburuan. Hal yang pasti pernah terjadi ke semua orang. Mau secuek apapun juga orang, pasti dia pernah cemburu dengan seseorang. Bahkan, terkadang, orang yang cuek aja yah, bisa sesensitif orang yang oversensitive. So, never thought if people-who-always-don't-care will always don't care with all things.

Kecemburuan bisa muncul kapan saja dan di mana saja, ketika ia melihat sesuatu hal yang memancing hatinya agar menjadi "hangat". Baik cowok maupun cewek, juga. Namun hal ini biasanya cukup sulit bagi seseorang yang cuek, atau selalu berpikiran positif. Contoh, ketika lo sedang dalam hubungan dengan doi lo, dan ada orang yang mendekati doi lo, dan gossip mengatakan bahwa orang itu suka sama doi lo, kalau yang berpikir positif, hati lo akan mengatakan "Slow ajalah, toh cuma deket sebagai temen kan..". Kalau lu sensitif, kemungkinan beberapa jam, atau menit kemudian, hati lo akan memanasi dirinya sendiri, terkadang bakal kebakar dengan cepat. Krik.

Dalam keluarga, biasanya muncul iri hati juga kepada saudara. Apalagi, kakak atau adik kandung. Biasanya, iri hatinya karena saudara lo itu mempunyai sebuah hal yang lebih baik daripada lo. Atau, lo yang merasa enggak sama dilakuinnya dengan orang tua lo, dengan adik lo. Atau yang sering terjadi, seorang saudara yang iri akan sepupunya yang ulang tahunnya dirayain, yang pemikiran lo itu "Kenapa gue yang lebih muda dari dia tapi enggak dirayain.. Malah pada kaya lupa semua sama ulang tahun gue...".

Dan ketika saat malam hari di rumah. Saat-saatnya bakal bosan di kamar. Mau belajar enggak mau ( kecuali, saat esok harinya ulangan ), dan mau tidur juga enggak mau. Maunya, pasti buka HP, kalo enggak browsing, chat sama temen atau doi. Dan ketika lagi asiknya main HP, tau-tau orang tua datang ke kamar, dan... "Hey! Kamu itu belajar lagi! HP aja kerjaannya..."

Di saat itu, pasti lo pengen jawab "Temen-temen aku aja pada gak belajar kok!", dan jawabannya pasti "Alah, alasan! Coba ntar ditanya temen kamu, ada enggak yang malam-malam gini buka HP kaya kamu!". Lo cuma bisa diam pasti kalo udah gini. Tapi inilah yang membuat iri hati muncul, lagi. Pasti lo berpikiran, "Kenapa si dia ini enggak pernah kena marah yah kalo enggak belajar... Bisa yah.. Gue kena marah terus coba tiap hari.. Kenapa dia enggak.."

Terkadang ironisnya, kecemburuan juga dapat muncul karena kesalahan diri sendiri. Misal, ketika lo dan adek lo diberikan uang beberapa juta untuk membeli barang-barang yang diinginkan. Ketika lo belinya sebuah laptop idaman yang memang harganya hampir menghabiskan uang yang diberikan, adek lo hanya beli sebuah HP, dan sisanya ditabung, yang katanya "Sayang, mending buat beli paket kuotanya aja..."

Dan dalam beberapa bulan kemudian, ketika lo butuh uang untuk beli sesuatu, uang itu kan udah kepake hampir semua buat laptop. Lo minta orang tua, gak dibolehin. Dan lo ngeliat adek lo yang masih ada setengah dari uang yang diberikan. Lo cemburu, dan pasti komentar "Tau gitu enggak gue beli yang lebih murah aja deh... Kampret".

Dan, yah, untuk post ini, sampai sini saja dulu. Mungkin emang enggak sebanyak yang sebelumnya, but it's better than nothing ;)

Cya later and keep writing as our hobby!
Wednesday, 5 March 2014

Sahabatan, atau Pacaran?


Dalam sebuah kehidupan, baik yang bagus, maupun yang buruk, pasti kalian punya yang namanya sahabat. Sahabat adalah teman yang ( terlalu ) dekat dengan lo. Baik yang berlawan jenis, atau sesama jenis. Dan, pasti, banyak dari orang yang memiliki sahabat lawan jenis, dan orang itu memiliki perasaan dengan sahabatnya itu sendiri. Dan, tentunya, pasti banyak yang bingung, apakah dia mau mengungkapkan perasaannya itu, atau hanya dipendam saja demi persahabatannya tetap berlangsung.

Diantara apa kalian mau sahabatan saja, atau mau jadian, memang sulit untuk memutuskannya. Banyak resikonya jika kalian mau mengungkapkan perasaannya, dan banyak sakitnya kalo kalian menahan perasaan itu sendiri.

Jika kalian memilih untuk mengungkapkan perasaan kalian, dan ( jika diterima ) jadian dengan orang itu, enaknya, lo bisa bebas berduaan dengannya, bisa ngasi sesuatu, bisa saling ngomong sayangn, namun kalian akan kehilangan sebuah sahabat. Biasanya, terkadang seseorang yang awalnya dari sahabat menjadi seorang pacar, mereka akan "sedikit" berubah. Seperti, kita gak bisa curhat lagi terlalu terbuka dengannya. Apa itu masalah cewek/cowok lain, apa masalah sekolah. Apalagi, kalau dia sensitif orangnya. Bagi beberapa orang ( yang beruntung ), itu tidak berlaku. Mereka masih dapat saling curhat akan sesuatu, seperti "pacaran seperti sahabatan".

Jika kalian memilih untuk tetap sahabatan dan "menahan" perasaan kalian agar tidak diungkapkan, sakitnya itu, ketika dia curhat akan seorang yang lain yang dia ada perasaan, mending kalau hanya naksir, kalau sayang? Sakitnya bisa dalam, banget. Setiap hari dengar "actual info" tentang doinya dia, dan malah terkadang, kalo ada "bad actual info", ketika sahabat lo itu kesal/badmood sama doinya, hati lo mungkin merasa sedikit lega. Terkadang juga lo akan merasa kasihan sama dia, dan memilih untuk memberi saran, atau hanya mendengarkan ia bercerita. Semua cerita itu terkadang menjadi bor di hati lo, atau justru akan menjadi perban untuk hati lo.

Tapi yang sulit adalah, ketika dia jadian, dan lo sayang sama sahabat lo itu. Kemungkinan kecil kalo lo mengungkapkan perasaan hati lo ke dia, dia tidak akan menjauh dari lo. Tapi kemungkinan besar, Ia akan menjauhi lo karena, apa takut dianya selalu nyakitin hati lo karena curhatnya dia yang selalu tentang doi dia, yang tentu saja akan menyakiti hati lo. Atau, karena emang enggak mau kehilangan sahabatnya itu, dia tetap masih curhat akan doi dia, dan tentunya, meminta saran, atau hanya untuk didengarkan. Jika lo emang cuek orangnya, ini memang akan menguntungkan lo. Biasanya, orang yang cuek memang cocok dalam "misi" seperti ini. Karena, kalau dia cuek, biasanya pemikirannya akan "Ah, biarin aja deh. Yang penting kan perasaan gue ke dia dan dia masih apresiasiin gue karena enggak dijauhin". -_-


Enggak banyak lagi yang bisa gue tulis di post ini. Semoga kalian bisa enjoy apa akan yang saya tulis di sini. Happy writing, and ciao! :D

Thursday, 27 February 2014

@SPANSABLPG


Sekolah. Banyak orang yang bilang tempat ini akan membosankan, namun ada juga yang bilang terlalu seru untuk menjadi sebuah tempat tinggal sementara.
SMP Negeri 1 Bandarlampung, atau biasa disebut Spansa, kebanyakan, adalah rumah kedua gue. Rumah untuk belajar, rumah untuk berisik. Kebanyakan teman-teman gue, baik teman main, teman buat ngiseng, teman curhat, semua ada di rumah itu. Tempat untuk menyendiri, tempat untuk beramai-ramai bercanda, dan saling tertawa. Bahkan, bagi beberapa orang, Spansa ini bisa dibilang sebagai tempat internet gratisan. -_-

Banyak pengalaman yang gue dapat selama bersekolah di sana. Dari masa gue baru lulus SD dan tau-tau udah duduk di kursi baru, di kelas baru, dan sekolah baru, sampai masa-masanya udah mau ujian-dua-puluh-paket-dengan-barcode. Gue banyak belajar. Dan tentunya, perubahan akan diri sendiri. Perubahan itu banyak, tak terhitung. Dari jalan hidup, kecuekan akan nilai ulangan remedial, hubungan persahabatan, dan tentunya... Cinta.

Dulu, gue merasa kalau untuk menuju tangga tingkatan kelas di SMP yang paling atas, atau kelas 9, akan terasa lama. Gak taunya, gue ngerasa dua setengah tahun lebih di Spansa ini terasa berlalu terlalu cepat. Andaikan kalau SMP itu kayak SD, bisa sampai 6 kelas, mungkin enak aja, selama 6 tahun, gue akan meluangkan waktu 7 sampai 9 jam dalam sehari di sekolah ini, yang kebanyakan waktu itu gue habiskan dengan ngobrol, atau main, daripada ngantuk karena memerhatikan penjelasan guru di depan, dan jika udah pulang sekolah, biasanya bakal ke lokasi tiap hari gue ngobrol dengan teman gue. -_-

Dan persahabatan, gue baru di SMP ini benar-benar punya sahabat. Kadang curhat, kadang iseng-iseng, kadang suka ketawa bareng, dan banyak lagi. Mereka seperti tambahan bagian hidup gue. Dan gue kenal mereka padahal baru satu setengah tahun lalu. Memang gue pernah terjerumus dalam masalah yang membuat gue dan seorang sahabat gue menjauh, namun gue bisa balik sahabatan lagi dengannya. Dan sekarang, dia selalu curhat ke gue akan masalahnya. Dan saking dekatnya, terkadang banyak orang menyangka kalau gue sama dia itu pacaran. ( Iya, berlawanan jenis soalnya. ) -___-

Dan, sahabat gue yang pernah mengenalkan komik rage face dan meme ke gue. Semenjak dia dekat sama gue, sekarang gue fanatik banget yang namanya rage face dan meme itu. Terkadang tiap hari buka website komik ( seperti 1cak.com dan memecenter.com ). Kalau terkadang ada unsur kehidupan yang lucu, akan dikaitkan dengan sebuah meme. :))

Ini ngebuat kangen masa-masa ketika masih di pertengahan diantara para kelas junior dan senior di sekolah.

Dan di kelas 9 ini, belakangan ini gue dekat dengan beberapa adik kelas. Berawal dari gue kelas 8, gue dekat dengan seorang adik kelas. Kadang curhat, kadang lucu-lucuan. Dan akhirnya, berawal dari pertama kali pertemuan eskul jurnalistik, gue mulai dekat dengan beberapa adik kelas lainnya, dan mereka ini memang teman dekatnya teman gue.

Dan, soal guru-guru di Spansa ini, banyak yang buat gue salut. Seperti guru PKn gue. Biar dia udah tua, bahkan dari jaman sepupu gue yang meluangkan 3 tahun di Spansa juga dari tahun gue lahir, dia masih keliatan aktif banget ngajarnya. Setiap bab, pasti akan diberi catatan berupa print-out kertas, dan ulangannya gak bakal beda jauh dari yang di sana.

Kalau ada guru yang enak, tentu saja ada guru yang gak enak. Seperti, guru matematika gue. Membingungkan untuk menjelaskannya gimana, tapi intinya: ngajarnya gak enak dan buat bingung dan buat selalu menguap karena sulit mencerna tulisan-tulisan di papan tulis. -_-

Namun, ada juga guru yang ngasi banyak kebebasan terhadap muridnya, seperti guru TIK/komputer gue. Gue suka cara mengajar dia. Termasuk, kalau ulangan, terkadang ada sistem "jual diskon", yang diskon itu didapatkan dari hasil jawab-pertanyaan, yang terkadang sulit pertanyaannya. Diskon itu sendiri digunakan untuk banyak bonus, apalagi ketika ulangan. Wkwk :))

Dan, Spansa juga, pulangnya bisa dibilang terlalu sore. Jika biasanya SMP lain pulang jam dua-an, ini bisa sampe jam 3an. Emangsih, buat capek, tapi capeknya ini bisa jadi alasan "Mama, aku mau tidur aja. Aku capek, mau istirahat" terus :p

Dan terakhir, tentang kelas terakhir gue di Spansa, "Fearless", atau kelas 9.3. Sama halnya kaya kelas gue dulu, ada enaknya dan enggak enaknya. But to be honest, baru di kelas ini yang anak-anaknya para kocak, dan bisa menambahkan mood. Dengan berwalikelaskan ibu Flora, guru agama Islam. Terkadang sih, ridiculous ( menggelikan ) juga, karena setiap hari pasti ada sebuah hal yang dapat ditertawakan. Dan juga, gue salut kelas ini setiap beberapa minggu, atau setiap bulan, melakukan kegiatan rutin seperti saling jujur ke sekelas.

And so far, itu aja tentang SMP gue. Thanks for reading :D
Monday, 24 February 2014

"After the Rain"


Setelah hujan, biasanya keadaan lingkungan sekitar kita akan menjadi segar. Biasanya juga, bakal jadi penuh genangan air tawar ( atau terkadang, air asam ). Dan biasanya, di saat inilah, para orang-orang biasanya, akan duduk di kursi, sembari menikmati secangkir kopi dan ngemil kue. Atau, terkadang, bakal duduk dengan di depannya terdapat jendela yang memperlihatkan tetesan air yang jatuh dari puluhan kilometer di atas langit.

Di masa hujan kayak gitu, biasanya banyak orang bakal galau. Apa karena hujan adalah cermin dari perasaan seseorang, terkadang, atau di saat yang kebetulan, ketika mereka emang sedang galau, tiba-tiba hujan turun. Perfect timing, sometimes, hanya untuk orang yang beruntung kalau bisa begitu. Terkadang, lagu yang cocok juga adalah lagu yang seirama dengan tetesan air hujan, atau, suasana sunyi yang dihiaskan dengan suara.... Isakan.

♬After the Rain, composed and sang by Adhitia Sofyan.

If I could bottled the smell of the wet land after the rain
I’d make it a perfume and send it to your house
If one in a million stars suddenly will hit satellite
I’ll pick some pieces, they’ll be on your way

In a far land across
You’re standing at the sea
Then the wind blows the scent
And that little star will there to guide me

If only I could find my way to the ocean
I’m already there with you
If somewhere down the line
We will never get to meet
I’ll always wait for you after the rain


Link for Song: Here.

Gue suka lagu satu ini yang dibuat, dan dinyanyikan oleh seorang gitaris Indonesia, Adhitia Sofyan. Menceritakan seseorang yang sedang ( dan selalu ) waiting seseorang, dengan tema sehabis hujan di pantai. Memangsih, cocok. Ketika hujan, pasti di suatu tempat akan sepi banget, kan? Makanya, sehabis hujan dengan aroma udara yang segar dan bisa dijadikan parfum.

Sekarang fokus ke topik.

Dan soal "After the Rain" sebenarnya yang gue maksud sekarang, adalah ketika seseorang yang meneteskan air mata. Nangis itu bisa sama dengan hujan. Dan tentang "ketika seseorang sesudah nangis, mereka akan merasa lebih lega", gue setuju, ada kaitannya dengan hujan juga. Ketika mulai hujan, awal-awal gerimis dulu, atau sama ketika mengeluarkan tetes pertama air mata. Lama-lama akan menjadi deras, dan di mana saatnya seseorang juga tidak bisa menahan perasaan hatinya yang terlalu sakit untuk dijelaskan. Hingga lama kemudian, hujan akan menjadi gerimis dan akhirnya berhenti, atau sama saja, ketika seseorang mulai lega perasaannya dan mulai berhenti nangis. Dan ketika hujan sudah berhenti, keadaan sekitar sudah segar, sama saja ketika lo nangis, keadaan di hati biasanya akan lega.

Alasan seseorang menangis itu bisa bermacam-macam. Persahabatan, keluarga, hubungan. Bahkan, candaan, sebuah kalimat, atau sebuah kata, bisa memancing air mata. Jangan bilang enggak buat nangis itu mudah. Jangan bilang menahan perasaan itu mudah. Menahan itu sulit, menahan kesabaran, menahan sebuah meteor yang jatuh dari ratusan kilometer dari langit, apalagi.

Menahan amarah aja sulit, apalagi menahan kesedihan. Anggapkan hati itu tempat minum. Kalau diisi air panas, atau amarah, tempat minum itu akan semakin panas, dan jika diisi terlalu penuh dengan air panas, air panas itu akan tumpah, sama dengan hati. Gak bisa diisi amarah terlalu banyak. Sama hanya dengan galau, atau air dingin. Dan itulah hati, gak bisa diisi dan menahan terlalu banyak amarah, atau perasaan galau. Jika terlalu berlebihan, pasti akan dikeluarkan dalam bentuk ngamuk, atau dengan mengeluarkan hujan deras dari mata.

Setiap orang memiliki kapasitas isi perasaan hati yang berbeda. Ada yang emang bisa sampe sebanyak galon air minum, ada yang cuma sekecil tutup botol minum. Itu kenapa ada kata "sensitif" dan "tidak sensitif" di kehidupan kita. Orang yang tidak sensitif, atau cuek, biasanya biarpun kapasitas hatinya kecil, gak akan mudah terisi dengan perasaan. Jadi, yang cuek ini akan kebal dari banyak candaan dan kata-kata yang biasanya menyakitkan. Tapi, belum tentu dia akan tahan dengan serangan perasaan sakit yang terus menerus setiap hari. Setiap manusia pasti pernah marah, atau sedih. Coba aja lo lemparin batu ke kayu. Mau seberapa tebal dan seberapa kuat batu tersebut, lama-lama, akan hancur si kayu tersebut karena tekanan dari batu. Sama aja kayak hati.

Hati juga terkadang gak bisa diprediksi untuk menangkap "serangan menyakitkan", atau hanya melepaskannya saja. Maksudnya, ketika lo misalkan bercanda terhadap suatu hal ke orang lain, kita gak bisa tau, apa orang itu akan ketawa, atau justru malah tersinggung. Jadi, jangan anggap candaan yang lo pake ke satu orang, akan mengundang tawa terhadap orang yang lainnya.

Dan, kali ini, itu aja yang pengen gue post. Cyao all later! :D
s
Thursday, 20 February 2014

Pilihan Jalan Hidup: Eksis, atau Anti-social


Jadi, kalian tau apa itu eksis, atau anti-social? Yap. Eksis itu populer, anti-social itu gak populer. Eksis itu kece, anti-social itu biasa aja. Eksis itu menganggumkan, anti-social itu membosankan. Itu simplenya sih.

Orang yang eksis, kebanyakan biasanya orang yang dapat terbuka dengan publik. Atau, bisa karena dia kece, apa dia ganteng, atau karena sebuah sifat pada dirinya yang bisa membuat banyak orang tau akan orang tersebut. Mereka lebih suka suasana yang "berisik", dengan banyak orang di sekelilingnya untuk diajak ngobrol.

Sementara orang yang anti-social, biasanya orang yang sulit terbuka. Mereka lebih suka ketenangan, dan jarang untuk berkumpul dengan teman-temannya kecuali kalau memang diperlukan. Apalagi, orang yang pintar, namun pendiam. Apa emang aslinya enggak mau nyari teman karena sebuah alasan. Atau, karena jadi anti-social karena... "Capek" jadi orang eksis.

Memang banyak perbedaan diantara kedua itu. Terlalu banyak untuk dijelaskan. Namun, maupun eksis, atau anti-social, keduanya memiliki inti yang sama: yang penting masih bisa hidup untuk mengurus diri sendiri. Iya, mengurus diri sendiri. Kalo gak bisa, buat apa kita hidup? Dan juga, tentunya, memiliki pengaruh kepada kehidupan di masa sekarang, atau masa depan.

Sekarang, tentang eksis. Ada enaknya menjadi orang populer. Lo bakal banyak kenalan, teman. Banyak teman itu berguna banget, seperti ketika lo butuh bantuan contekan ketika ulangan, teman lo dapat dengan senang hati membantu lo dengan mudahnya, apalagi dari kelas lain. ( Tergantung orangnya gimana dulu, sih. -_- ) dan tentunya, apalagi yang ganteng dan kece, biasanya gampang untuk mendapatkan pasangan. Susahnya sih, menjaga sikap terhadap banyak orang itu wajib. Ketika terkadang lo melakukan kesalahan, baik kecil maupun serius, kalau udah nyakitin seseorang, atau banyak orang, bisa-bisa gosipnya udah kaya nyamuk bejibun. Cepat nyebarnya. Dan ujung-ujungnya, suara sorakan akan terdengar setiap kali lewat, karena kesalahan yang lo perbuat.

Kebanyakan, masalahnya itu seperti hubungan pacaran dan pertemanan. Misalnya, kalo lo mutusin seseorang, dan lo PHPin dia ( baik dengan sepengetahuan lo, maupun hanya si doi yang merasa saja, keduanya sama saja hasil akhirnya ), bisa-bisa lo malah bakal sulit mencari pasangan lagi, karena gosipnya terlanjur menyebar kalo lo itu PHP. Dan, ketika lo butuh bantuan teman, ketika udah ada gosip, atau emang fakta tentang lo yang udah nyakitin teman lo, baik fisik atau psikis, beberapa orang akan mencoba menjauh dari lo, karena mereka tidak mau untuk merasakan yang sama dengan temannya yang udah merasakan.

Dan juga, orang populer juga, biasanya ada yang tidak suka dengan orang populer itu tanpa disadari, tanpa diketahui orang itu. Biasanya, karena sifat, atau karena sebuah masalah.

Dan sekarang anti-social. Mereka ini spesies sosial yang lumayan jarang. Biasanya mereka itu terkadang cuek akan teman, gak peduli dengan apa yang terjadi dengan di sekitarnya, dan hatinya dingin ( bukan berarti orang anti-social itu dingin semua hatinya ). Rata-rata juga, mereka ini sering dibilang sombong dengan banyak orang. Karena, mereka lebih baik disapa daripada menyapa orang lain. Terkadang mereka jarang, bahkan hampir tidak pernah mencoba menyapa seseorang, bahkan yang berpapasan pun. Ini karena sifat natural mereka yang pendiam, dan cuek.

Anti-social juga, terkadang mereka ini "agak terbebas" dari bahaya gosip. Bukan berarti anti-social memang benar-benar gak bakalan digosipin. Tapi, mereka lebih bebas dengan kehidupan mereka sendiri. Terkadang, mereka gak suka kalau diganggu terlalu banyak. Juga, mereka gak terlalu peduli soal pacaran. Ada sih, anti-social yang pacaran. Tapi menurut pengalaman gue dengan orang anti-social, ini hanya terkadang saja terjadi.

Ada teman sekelas gue yang curhat ke gue, "Kalo gue sekarang suka dibully, suka dikongek, mending nanti SMA gue jadi anak yang pendiam, dan gak kepengen punya teman dan.... Pacar."

Menurut gue, itu sulit. Mengapa?

Takdir. Iya, seseorang yang udah terbiasa menjadi eksis, atau anti-social, mereka akan sulit untuk "berpindah pilihan jalan hidup". Ini bakal butuh waktu lama, kalaupun bisa. Karena faktor keadaan yang sudah terbiasa mereka jalankan sejak dari kecil hingga sekarang. Orang yang udah terbiasa kesepian ( atau, dia lebih menikmati ketenangan ), sulit untuk beradaptasi dengan keadaan dia nanti yang ramai. Ujung-ujungnya, mereka akan kangen dengan keadaan mereka yang selalu tenang. Orang yang udah terbiasa dengan keramaian dengan bermacam-macam bahan obrolan, akan sulit dengan keadaan dia nanti yang akan selalu kesepian. Mereka akan merasa terlalu kesepian untuk menjadi seorang manusia.

Kecuali, kalau memang mereka berniat untuk berubah. Dan, kalau mereka sudah tidak tahan karena pilihan hidup yang salah.

Memang, ribet, sebenarnya. Memilih pilihan jalan hidup seperti ini itu kayak memilih jurusan saat kuliah. Salah-salah, harus mengulang dengan awal yang baru lagi. Atau, terpaksa menjalankan dengan sulit dan selalu kepayahan.

Gue sendiri, pengalaman gue akan merubah pilihan jalan hidup, ternyata memang sulit. Gue ingin menjadi seseorang yang enggak diganggu banyak orang. Namun percayalah, perasaan lo lama-lama akan kangen dengan semua gangguan itu.

Gue pernah dengar, ada orang yang menjalankan hidupnya dengan "pilihan hidup setengah-setengah". Maksudnya, ia terkadang dapat eksis di waktu tertentu, dan ia akan menjadi anti-social di saat moodnya yang tidak pas untuk banyak orang di sekitarnya. Biasanya, orang seperti ini moody. Tapi gue salut, bisa yah kayak gitu. -_-

Untuk ini, segini saja post tenang eksis atau anti-social ini. Dan, maaf jika ada yang merasa tersinggung karena tulisan-tulisan di atas. Later again, fellas! ;)
Wednesday, 19 February 2014

What is "Being a Teenager"?


Masa remaja. Di mana masa hidup kita untuk beralih menjadi dewasa, dan meninggalkan masa kanak-kanak. Masa di mana ingin lebih diperhatikan. Masa di mana keinginan akan ini itu lebih banyak. Masa di mana, akan lebih sering kena marah karena "kepengen hidup bebas". -_-

Kebanyakan sih, masa remaja kita dihabiskan dengan belajar. Apalagi, sekolah. Jika masa kanak-kanak kita belajar enggak selama masa remaja, yang misalnya, dari yang biasanya pulang jam 12, jadi sering pulang jam 5 sore, misalnya, dan masa dewasa nanti, kita dituntut untuk belajar lebih lama lagi, kita harusnya bersyukur, masa remana ini masih di tengah-tengah jalan kehidupan.

Banyak yang mengeluh karena masa remaja ini. Ada yang kebanyakan stress sendiri karena Ujian Nasional ( gue, misalnya ), ada yang stress karena persahabatan gak segampang dulu lagi, juga, stress karena... Cinta.

Cinta di masa remaja, ada yang menggangapnya seperti "cinta monyet", bahkan ada juga yang sudah menganggap cinta pada masa remaja itu udah kaya cinta anak kuliahan. Ini, tergantung oleh orang masing-masing, sih.

Yang namanya masa remaja, kebanyakan orang pasti mengganggapnya "menyakitkan selalu". Menurut gue juga sih, memang sebenarnya menyakitkan, tapi asal dijalankan dengan baik, dan sabar, pasti ada happynya kok ;)

Jaman sekarang juga, banyak anak remaja yang udah terlalu terjerumus dengan kehidupan orang dewasa. Mereka udah berani ngelawan orang tua, udah berani pulang terlalu sore ( yang biasanya alasannya "bosen di rumah" ). Ini sebenarnya agak normal, karena emang sifat natural remaja untuk beralih dewasa. Mereka ada keinginan untuk hidup sendiri, tanpa panduan.

Panduan bagi anak remaja dari orang tua itu, terkadang hanya dianggap ucapan yang salah untuk diri mereka.

Ambil contoh simple, kalian terkadang pasti gak mau belajar kan, biarpun udah disamperin berulang kali. Beruntung yang orang tuanya cuek mau anaknya belajar apa enggak, lah, kalo orang tua yang tiap menit masuk ke kamar anaknya buat nyuruh anaknya belajar, dan mau sampe pintunya jebol dibuka-tutup terus, gue yakin, tiap hari bakal ada suara kucing berantem kejepit pagar di rumah lo. -_-

Dan soal persahabatan di masa remaja, pasti udah ada yang namanya kehilangan teman. Kebanyakan, karena emang temannya udah lupa sama teman lama karena teman baru ( apalagi abis pas kenaikan kelas, dan ada dua teman pisah kelas ), atau karena masalah tikung-tikungan, dan lain-lain. Masa remaja ini, persahabatan adalah salah satu hal penting dalam hidup. Jangan harap, teman baru dapat buat lo lebih baik. Justru terkadang, mereka akan buat lo makin buruk.

Ada persahabatan yang dari jaman SMP bakal longlast sampai kalian dewasa nanti. Kalo kalian emang saling cocok, teruskan persahabatan itu. Maksud gue cocok itu, misalnya cocok karena emang yang satunya humoris, dan satunya punya selera humor yang bagus, atau yang satunya suka curhat-curhat, satunya advicer atau listener yang baik.

Dan juga, di masa remaja ini, banyak orang yang mencoba "apa itu pacaran?". Bagi beberapa orang, pacaran itu adalah mencari yang cocok. Ada yang fungsinya sebagai "teman agar tak kesepian, dan agar dianggap". Namun jugasih, ada yang pacaran hanya untuk memanfaatkan rasa sayang seseorang untuk egoismenya sendiri.

Pacaran sendiri menurut gue, memang gak sepenting pertemanan, namun tetap aja penting. Pacaran juga bukan masalah perasaan juga, tapi masalah kecocokan, dan respek diantara kedua orang itu.

Ada yang pacaran namun kayak sahabat. Selalu curhat apa isi hatinya, gak peduli apa itu masalah hubungan mereka sendiri, apa masalah pribadi. Bisa dibilang, saling jujur.

Dan soal "jujur", kejujuran adalah hal paling penting dalam kehidupan, bagi gue. Apalagi, hubungan pacaran dan persahabatan. Jujur itu simple, tapi emang terkadang menyakitkan, tapi tak seberapa menyakitkan dari satu sampai puluhan kebohongan yang lo berikan ke seseorang. Simplenya juga, lo gak perlu mikir-mikir lagi alasannya apa. Tinggal ucapkan, selesai. Memang terkadang sulit karena faktor perasaan di hati. Atau justru terkadang malah akan mengakhiri suatu hubungan.

So far, ini aja dulu post pertama dari blog ini. :D

Time of the World

Blogger TemplatesMy Blogger TricksAll Blogger Tricks

Pageviews

Video Bar

Loading...
Powered by Blogger.

- Copyright © Life of a Teenager -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -