Blogger Tricks

Honest Review: Xiaomi Redmi 5A

Halo!
Setelah dengan waktu yang lewat untuk beberapa tahun silam, akhirnya blog ini kunjung memiliki post baru lagi. Stelah.. Gue (sempat) pensiun dari dunia menulis juga.. -_-

Mungkin akan berbeda (sangat) dari post-post sebelumnya, kali ini gue mau sedikit melakukan review handphone yang baru beberapa hari ini gue gunakan. Sebuah Xiaomi Redmi 5A, yang konon untuk mendapatkan handphone ini dengan harga resmi yang (bisa dibilang) tidak masuk akal, yaitu Rp 999.999, merupakan sebuah perjuangan tersendiri. (Mungkin Anda yang pernah mengikuti flash sale Lazada bakal mengerti apa yang gue maksud wkwk)
(Sumber: lazada.co.id)

Langsung saja.
Beberapa penampakan dari Xiaomi Redmi 5A:

Tampak samping sebelah kiri, dengan tempat kedua kartu nano-SIM dan kartu MicroSD. Dedicated slot yah, bukan hybrid lagi seperti pendahulunya!

Tampak bawah, dengan port Micro USB 2.0, serta dengan mic dan LED untuk notifikasi (hanya warna putih saja, sayangnya).

Tampak samping kanan, dengan tombol volume dan power.

Tampak belakang, dengan speaker dan beberapa tulisan (yang kurang terbaca, sayangnya).



Tampak atas, port 3.5mm dan IR blaster untuk semua peralatan elektronik yang menggunakan remote control. Kelas panas dan AC tidak hidup dan males untuk memanggil teknisi kampus? Lakukan saja sendiri dan selesai!

Tampak belakang (lagi). Kamera 13MP serta dengan flash LEDnya.

(Photos? Copyright Ptas 2018. Pegal nak nungging-nungging.)

Honest review, begins here.

Jujur, dari segi yang banyak halnya, ini HP yang paling worth it yang pernah gue beli. Memang, perfoma masih ada sedikit tersendat-sendat, tapi jauh lebih baik dari HP gue yang sebelumnya (Asus Zenfone 4S, yang rusak total dan gue pensiunkan, serta Samsung Galaxy Star Plus, yang merupakan "pinjaman gratis selama 2 tahun karena HP itu aslinya milik adek gue" wkwk)


OSnya dikasi Android 7.xx, atau biasa disebut Nougat. Bawaannya pas gue pertama kali buka itu masih MIUI 9.1. Langsung gue update ke MIUI 9.2. dan... Gak ada bedanya dari sebelumnya. -_-
Tapi yang penting, Nougat sudah ditangan, setelah merasakan Jelly Bean untuk waktu yang cukup lama. Internal 16 GB, dan "bebas"nya pas pertama kali buka ada sekitar 7-8 GB. Sebenarnya masih kurang, karena tau sendiri bagaimana orang ingin menginstal banyak aplikasi. Terlebih, GTA: San Andreas. xD

Sudah support LTE juga, di kedua SIM, yang merupakan fitur yang wajib ada untuk di setiap HP, menurut gue. 
Karena? Kuotanya murah. Hehehehehe. 

Tapi untuk catatan, kalau untuk menelpon biasa yang masih menggunakan pulsa telepon, jaringan LTE enggak bisa digunakan. Kudu switch ke 3G.

Layar oke. 1280x720 pixel, yang udah mencukupi sangat untuk kebutuhan mata gue (serta membatasi pemakaian kuota dan baterai juga, makin gede kan makin boros.. Wkwk) . Kamera belakang 13MP yang udah ada phased detection autofocus, dan kamera depan 5MP yang (sebenarnya) gapernah gue pake, oke juga. Bokeh yang dihasilkan lumayan, hanya kadang ketika merekam video, shutter lag yang amat sangat terasa itu ada. Dan, itu menjengkelkan.


Sebagai mahasiswa yang suka multitasking, jujur gue senang sama HP ini. Sangat. Karena apa? Screenshot di bawah ini menjelaskan segalanya.


RAM yang diberikan Xiaomi untuk HP ini lumayan mumpuni, 2 GB, meskipun yang "bebas" hanya berkisar 500-700 MB. Karena MIUI (katanya) memang terkenal berat dan makan RAM yang lumayan sih.. Tapi sejauh ini gue cuma merasakan lag-lag yang enggak signifikan dan sebenarnya tidak mengganggu juga. Dan sebenarnya sih, dari Xiaomi-Xiaomi yang lainnya yang pernah gue cicipi, termasuk HP teman gue, Xiaomi Redmi 2, ini makai HPnya (tetap saja) nikmat sekali.



(tolong jangan hiraukan pemakaian kuota gue yang enggak terkontrol)

Kedua gambar di atas? Enggak tau harus komentar apa, karena sama saja juga kan mau Android mana saja. Anda lihat dan nilai saja sendiri. Wkwk. 



Sejauh dari HP-HP yang pernah gue miliki, aplikasi musik bawaan milik MIUI ini, yang paling enak yang gue pakai. Paling simple liatnya, bersih juga, serta minimalisnya yang bener-bener gue prefer. Oh, fitur terbaik yang gue pakai? Di bawah ini!

Sound Enhancer yang dikasi MIUI ini..
AMAT SANGAT MANTAP JIWA. titik.

Pakai earphone bawaan punya emak gue (dari HP Himax Pure 3S), yang biasanya suaranya biasa aja, dengan aktifnya fitur ini.. Treble lebih jernih. Middle lebih enak didengar lagi. Bass lebih terasa. Intinya kayak gitu. Enak di telinga!

Sejauh ini, sepertinya ini saja yang saya review. Karena pemakaian juga belum lama, dan belum sempat buat explore fitur-fitur lainnya yang ada.

Terima kasih karena sudah membaca!
Tuesday, 6 February 2018

16+/17

Mengerti maksud judul di atas?
Kalau mengerti, bagus.

Masa-masa remaja ini mulai masuk ke tahap pendewasaan ketika kita beralih ke umur ganjil, 17 tahun. KTP, SIM, udah bisa punya, kerja pun udah mulai bisa melamar di beberapa tempat yang memang menerima. Dan, transisi ini juga kadang mempengaruhi cara berpikir seseorang, atau bahkan 'memaksa' seseorang untuk mulai merasakan perbedaan dari sebelumnya. Apa yang dirasakan setelah 16 tahun hidup di dunia ini, ada yang harus berubah, demi 64 tahun/lebih kedepannya.

Mendewasakan diri itu hal tersulit pas jaman transisi ini. Jujur aja deh.

Bangun sendiri jam 4.30 hanya dengan alarm, menjaga waktu karena time-managingnya mulai ketat, seimbangin antara main dan belajar (yang satu ini? Feels. As. Hard. As. Hell.), dan banyak deh. Kebanyakan kalau disebutkan. -_-

Mendewasakan diri dari segi perasaan dan hati, serta cara mikir itu adalah yang paling tersulit ketimbang yang disebutkan di atas.

Bagaimanakah mengatasi masalah dengan seorang teman karena salah pahan tanpa buat masalah lagi?
Bagaimana mengatasi masalah dengan guru?
Atau, bagaimana mengatasi masalah perasaan?

Masalah? Face it!
Meskipun memang harus menanggung malu.

Yang terakhir? Penghambat utamanya adalah labil.
Labil.
Nyadarin diri aja, gue masih labil juga kok.

Susah kan, melepaskan dari sifat labil? Labil dalam memilih, apalagi.
Sampai sekarang aja gue enggak mengerti bagaimana caranya lepas dari sifat itu.

Namun, meskipun labil juga, dasar kedewasaan sebenarnya: diam.

Menghindari masalah dengan diam.
Mengapa masalah dengan diam.
Menjaga privasi seseorang yang sudah dipercayakan ke lo, dengan diam.
Dan banyak lagi.

Selain diam, ada juga: sabar.
Wah. Inimah. Ahaha. Parah. Susahnya.

Sabar Itu kunci dari diam.
Daripada masalah dibalas masalah, mending diam kan?

Kekanak-kanakan sebenarnya juga boleh, malah bagus. Asal, munculkan juga kedewasaanmu. Dunia yang terlalu serius itu gak bakal asik lagi. Monoton itu enggak enak.
Tapi terlalu kekanak-kanakan disekitar kedewasaan itu malah membuat risih sendiri kadang.
Makanya, seimbangkan. ;)

"We already grown up to the changes that should be up" -  Anonymous.

Monday, 28 September 2015

Perasaan.

Perasaan.

Feelings ruled the world since the first born human.

Jangankan orang lain, logika diri sendiri aja bisa terpengaruh abis dengan perasaan.

Senang.
Sedih.
Baper.
Sakit.
Laper.
Kenyang.
Haus.
Grogi.
Sawan.
Cinta.
Sayang.
Taksiran.
Fans.
Sakit hati.
Sakit kepala.
Sakit perut.
Gak boker tiga hari.
Gak main Clash of Clans seminggu karena bokek kuota.
Enggak megang tangan seseorang secara romantis lama banget. *abaikan satu ini....

Iya. Itulah perasaan.

Tidak seperti logika, perasaan membawamu bersamanya selalu. Bahkan ketika 'sudah! Cukup!' terdengar terlalu sering di kepala.

Membawamu hingga ke ujung jurang untuk menentukan.

Maka jatuhlah, atau tetap bertahan.

Inikah?
Sakit?
Percaya diri yang berlebihan?

Monday, 24 August 2015

Pedekate.

Pendekatan.
Hal yang biasanya tersulit untuk dilakukan.

Mau pendekatan buat jadian, apa pendekatan agar tanggal tua bisa ngutang, atau pendekatan ke menteri pendidikan agar diluluskan UN.

Semuanya, sama-sama susah.
Susah.
Susah.
#terngieng-ngieng kata susah di kepala...... 😂

Dimana-mana untuk mendekat itu butuh kesabaran dan waktu yang tepat. Terlalu cepat mendekat, gagal. Karena capek duluan, dan keburu risih duluan. Terlalu lama mendekat, gagal. Karena ketinggalan bis duluan, keburu diambil orang tempat duduknya.
Kecepetan dateng juga, bau badan. Risih si doi deketinya. Kelamaan dateng, dia bisa bosan karena kelamaan menunggu. (iye juga kalo die nunggu....)

Kehati-hatian juga perlu. Kecepatan, bisa kesandung batu, jatoh, mati. Kelamaan, keburu ditinggal (lagi).

#NP And I Love Her, Passenger.
Haha njir lagunya..... -_-

"She's as new as the springtime,
Strong as autumn blows
Warm as the summer
And soft as the snow
She's a thousand miles from here
But she's everywhere I go
Cuz I love her"

Efek kelamaan jomblo nih. Sialan. -_-

1. Jangan terlalu berharap.

Iya. Benar. Dalam pendekatan, jangan berharap terlalu lebih kalau dia bakal menjadi milik lo. Usahakan biasa saja menghadapinya.
Inilah sebab utamanya muncul PHP. Pemberi (dan Penerima...) Harapan Palsu. Karena ke-GR-an, biasanya.

2. Jangan terbirit-birit.

Ah, yang satu ini.
Baru beberapa hari, udah makai emotikon "{}", si emot peluk. Mending kalau diterima itu emotikon. Lha?
Ujung-ujungnya kalo enggak? Si doi keburu risih duluan. Disangkanya kenapa. Gagal deh, pendekatannya.

Santai aja. Pendekatan itu kayak jalan macet. Pelan-pelan tapi pasti.

3. Jangan takut.

Iyash. Don't be scared, just do it. No matter what will happen.
Beberapa orang emang udah terbiasa dengan pendekatan. Namun bagi orang yang sulit untuk mendekat, ini seperti meloncati tebing.
Inti utama dari pendekatan adalah, jangan takut. Meskipun itu takut ditolak, atau takut keburu ilfeel duluan karena salah melakukan sesuatu.

Justru terkadang, melakukan itu akan mengekspos respon dari doi.

"Ngobrol secara langsung bisa membuat lebih dekat dengan lebih mudah".
- kak Andryan, salah seorang senior gue.

Jangan takut akan kehilangan, terutama. Balik ke poin satu, alasannya.

4. Jangan lebay karena enggak kontak.

Ini adalah poin tersulit.
Ketika sedang chat, seringkali dianya hanya read atau readnya lama banget, atau seringnya HPnya mati.

Jangan lebay. Marah-marah sama dia karena hal itu adalah hal bodoh.

Faktornya terlalu banyak. Tapi yang seringnya?
Gangguan operator.
Dianya sibuk.
Dianya emang terbiasa enggak selalu di depan HP.
Lo enggak beruntung karena dia enggan menerima lo.

Sip kan? Sip.

5. Jangan posesif.

Duh. Belum dimiliki aja udah posesif. Kata bang Alitt sih, #poseshit.

Ini adalah yang paling ngeselin. Belum punya aja, udah wajib lapor terus menerus, atau yang lainnya yang engga gue ngerti.

Biasanya, yang posesif bakal terbunuh duluan. Apalagi yang doinya pasif.

Jangan paksa dia, demi keselamatan lo sendiri juga.

That's all thou. Hehe.
Semoga post ini (enggak) bermanfaat bagi yang sedang mendekati tapir liar! :3

Saturday, 28 March 2015

Gone.

"Jadi, seorang anak kecil bermain dengan boneka kesayangannya. Setiap hari pasti dibawanya ke mana-mana, dari kamar ke kamar, sampai juga ke sekolah.

Namun seiring waktu dimakan oleh dunia, anak itu lama kelamaan bosan dan mulai meninggalkan boneka itu. Ia sudah menjadi pribadi yang hanya memikirkan tugas, tugas dan tugas.

Boneka itu hanya pasrah saja, ketika debu mulai menyelimutinya. Tanpa ada yang peduli lagi. Seakan waktu memakan dirinya, terlantar di dalam sebuah kardus besar berisi barang bekas".

Nah, sifat dasar manusia mah sebenarnya simple saja:
Dapat -> antusias -> terus berjalan waktu -> bosan -> lupakan.

Dan gitu terus sampai dunia habis masa berlakunya.

Lupa akan sesuatu itu terkadang merubah hidup seseorang juga, termasuk hidup orang lain juga loh. Jadi jangan salah. Dan jangan heran, mengapa seseorang bisa berubah pandangan terhadap lo karena melupakan aja suatu hal.

Contohnya, melupakan tanggal penting saat pacaran. Yang cowok.. Ah, pasti taulah bagaimana rasanya diamukin gara-gara itu.  #ngehesekali.

Namun, yang membuat sedih itu ketika kenangan yang 'membunuh pikiran perlahan-lahan' enggak bisa dihindarkan untuk dipikirkan kembali. Semua orang pasti punya dong kenangan seperti itu. Berujung trauma malahan bagi beberapa orang. Tapi, jangan salah. Justru kenangan seperti itu yang membuat kita sadar di saat waktunya ada masalah yang berkaitan, bahwa yang terjadi saat kenangan itu, harus terjadi lagi, atau hindari sebisa mungkin.

Menganggu memang kenangan seperti itu. Yang nulis ini aja punya banyak kok.

Jika ada sebuah kenangan yang sebenarnya menganggu, namun ingin, bahkan harus terjadi lagi, usahakan untuk membuat kenangan itu terwujud untuk kesekian kalinya. Cara inilah, yang sebenarnya membuat kenangan itu memudar, seperti tugas guru killer saat sekolah. Kalau dikerjakan capek memang, namun tidak dikerjakan malah membuat pikiran kacau balau.

Mending mana hayo?

Dan, jika ada sebuah kenangan yang mengganggu, dan sampai kapanpun enggak mau terjadi lagi, usahakan jangan lupakan kenangan itu. Menganggu memang, namun justru gangguan inilah yang membuat kenangan itu tak terulang lagi.

Contoh sederhana. UN lo misalnya nilai bahasa Indonesia hancur. Usahakan untuk tetap ingat pastinya kenangan itu. Sometimes, it works. As it make the things gone better.

Dan, yang paling gue enggak suka selama ini adalah seorang teman yang melupakan begitu saja apa yang diperbuat demi orang itu.

Dan iya, gue juga pernah kayak gitu kok. Yang baca ini aja pasti iya, kan? Introspeksi diri aja, deh. Jangan salah menyalahkan.

Baik disengaja maupun tidak, yang sakit itu hati kecil dan pikiran juga loh terkadang. Bukan yang melupakan, yang dilupakan.

Apalagi yang udah tulus menghilangkan waktunya demi membantu temannya itu. Bantuannya ngebuat dirinya kesusahan sendiri lagi.

Setulus-tulusnya orang, pasti butuh balasan juga, sekecil apapun itu.

Contoh, seorang cowok, meskipun adalah mantan dari seorang cewek, dia masih mau membantu dengan tulusnya si cewek itu. Yang tanpa disadarkan sama sekali, cowok itu membantu setulus dia yang masih sayang dengan ceweknya itu dulu. Menghabiskan waktunya yang seharusnya digunakan untuk pekerjaan pribadinya. Meskipun juga sedang letih dan kesal karena pekerjaan pribadinya juga, masih saja ia membantu.

Beberapa hari kemudian, si cowok kesepian. Ia hanya membutuhkan beberapa tulisan berisi balasan. Diajaklah si cewek untuk chat.

Hanya saja, balasannya singkat, lama pula. Tidak menyakiti hatinya sih, sampai ia melihat "Safitri retweeted... Blablablabla" berentetan di timeline Twitternya, diwaktu ia membutuhkan percakapan meskipun hanya berbentuk tulisan.

Dan itu berlanjut sampai hari di mana tulisan ini dibuat.

"Hingga waktu yang lama selesai memakan jalannya dunia, kardus itu dibuka kembali. Terlihatlah boneka yang sudah usang itu memasang raut muka sedih. Diambilnya lagi boneka itu, dicuci lagi, dan disayang lagi seperti dahulu. Dibukalah mata boneka itu, pemiliknya berganti lagi, namun dengan raut muka ceria yang selalu sama.

Dan lagi, waktu memakan jalannya dunia, pemilik boneka itu hanya memikirkan tugas, tugas, dan tugas.  Berbeda dengan dulu, sekarang, sang pemilik dan boneka itu, masih memiliki raut muka yang sama, meskipun sang pemilik hanya memainkannya saat waktu senggang yang sempit".

End of the post.

Saturday, 21 February 2015

Koran MAPALA nan Greget.

Percayalah. Ini bukan pertama kalinya gue buat sesuatu yang aneh-aneh... Seperti membicarakan masa depan tetapi belum merasakan bagaimana rasanya. -_-

Contoh salah satunya, ya inilah.
Enjoy 'em some.



P.S: Copyrighted, btw.
Thursday, 5 February 2015

Well, First (Published) Ever

Well, jarang ngepost yah ane. -_-
Iye. Semenjak gue putus koneksi terus-menerus (sampai sekarang syukurnya enggak, tapi paling beberapa hari lagi iya.... Lagi. ) jadinya susah buat ini itu.

But today, I proudly release a arrangement by myself.

Here it is. Just have a look for it.

Sincerely,
myself, ehehe.
Sunday, 11 January 2015

- Copyright © Life of a Teenager -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -